KEDIRI (Surau.ID) – Kirab Budaya Bhumi Jaranan se-Kota Kediri tahun 2026 berlangsung meriah. Kegiatan yang diikuti sekitar 300 peserta ini menjadi bagian dari peringatan Hari Lahir ke-20 Wahyu Krida Budaya sekaligus upaya pelestarian seni tradisional bertempat di depan Stadion Brawijaya, Kota Kediri, Minggu (12/4/2026).
Ketua Umum Wahyu Krida Budaya, Sugito, menegaskan bahwa kirab budaya tersebut menjadi bukti eksistensi komunitas seni yang telah berdiri selama dua dekade.
“Kirab budaya ini bukti eksistensi kami sebagai pekerja seni,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pelaku seni yang terus menjaga tradisi jaranan di Kota Kediri dan sekitarnya. Menurutnya, tema Dasawarsa II sengaja diangkat untuk menunjukkan konsistensi Wahyu Krida Budaya dalam melestarikan budaya lokal.
Sementara itu, Asisten 2 Pemerintahan Kota Kediri, Heri Purnomo, menyampaikan dukungan penuh pemerintah terhadap kegiatan tersebut. Ia berharap kirab budaya mampu memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
“Kirab budaya ini wujud kecintaan terhadap warisan budaya lokal,” katanya.

Heri menambahkan, para pekerja seni telah memberikan kontribusi nyata dalam menjaga keberlangsungan budaya daerah. Pemerintah Kota Kediri, lanjutnya, akan terus mendorong kesenian lokal agar tetap eksis dan berkembang.
“Pemerintah akan terus mendorong kesenian lokal agar tetap eksis,” ujarnya.
Kegiatan kirab budaya dimulai dengan kedatangan peserta di lokasi, kemudian dilanjutkan dengan pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta menggelar pemotongan tumpeng sebagai simbol peringatan hari lahir Wahyu Krida Budaya.
Selanjutnya, peserta mengikuti rangkaian kirab budaya, suguh saji, doa bersama, grebek gunungan, hingga pelarungan sesaji.
“Ini upaya untuk menjaga, melestarikan, dan mengenalkan seni tradisional kepada generasi muda agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” pungkas Ketua Umum Wahyu Krida Budaya, Sugito.