SUMENEP (Surau.ID) – Krisis listrik di Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, kembali mencuat setelah pemadaman yang kerap terjadi belum menemukan solusi permanen. Alumni PMII Surabaya asal Sapudi, Hambali Rasidi, mengusulkan langkah konkret dengan memanfaatkan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) migas sebagai solusi jangka panjang.
Hambali menilai, persoalan listrik di wilayah kepulauan tersebut tidak cukup ditangani melalui imbauan atau kritik semata. Diperlukan langkah nyata, termasuk membuka peluang pengelolaan listrik oleh pihak swasta atau investor.
“Untuk mengatasi aliran listrik di Pulau Sapudi perlu dirintis perusahaan atau investor yang mau mengelola listrik di Sapudi,” ujar Hambali, Rabu (18/03/2026).
Namun demikian, ia mengakui upaya mendatangkan investor bukan hal mudah. Berdasarkan hasil kajian, sektor kelistrikan di Sapudi dinilai kurang menarik secara bisnis karena berpotensi merugi.
“Investor murni sepertinya kesulitan, karena listrik di Sapudi hasil kajiannya rugi,” tegasnya.
Sebagai jalan keluar, Hambali menawarkan pemanfaatan dana CSR dari perusahaan migas yang beroperasi di sekitar perairan Sapudi, seperti HCML. Ia menilai dana tersebut bisa diarahkan untuk investasi sektor energi, bukan hanya kegiatan sosial jangka pendek.
“CSR HCML itu dijadikan investasi untuk mengalirkan listrik di Sapudi. Itu salah satu solusi,” katanya.
Menurut Hambali, jika diakumulasi, nilai CSR dari sejumlah perusahaan migas di kawasan tersebut dapat mencapai angka signifikan dalam beberapa tahun.
“Jika dihitung, nilai total CSR dari perusahaan migas yang beroperasi di perairan Pulau Sapudi bisa sampai Rp10 miliar lebih jika digabung dalam beberapa tahun,” ungkapnya.
Dana tersebut dinilai berpotensi menjadi modal awal untuk mengembangkan sistem kelistrikan berbasis energi terbarukan, seperti tenaga surya atau sistem hybrid yang dinilai lebih sesuai untuk wilayah kepulauan.
“Ini bisa menjadi modal untuk melahirkan energi listrik terbarukan di Sapudi,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah daerah, perusahaan migas, dan pemangku kepentingan lainnya dapat menindaklanjuti gagasan tersebut agar persoalan listrik di Sapudi tidak terus berulang.
“Sudah saatnya Sapudi memiliki kemandirian energi, bukan terus bergantung pada sistem yang sering bermasalah,” pungkasnya.