Jakarta (Surau.ID) – Revolusi digital harus dipahami sebagai perubahan cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan, bukan sekadar perkembangan teknologi. Pernyataan ini disampaikan dalam kegiatan bertajuk “Mahasiswa dan Revolusi Digital: Menjawab Tantangan, Meraih Peluang” yang digelar Yayasan Rembuk Indonesia Raya bekerja sama dengan PKBM Ristek Nusantara Jaya, Sabtu (17/1/2026) di Jakarta.
Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak, akademisi dan Kepala Program Studi Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, menekankan pentingnya mahasiswa menjadi aktor utama dalam arus perubahan digital.
“Revolusi digital bukan takdir yang datang begitu saja. Ia menuntut kesiapan sumber daya manusia, terutama mahasiswa, untuk menjadi subjek perubahan, bukan korban atau penonton,” kata Aras di hadapan peserta.
Menurunya, tantangan terbesar generasi muda bukan hanya penguasaan teknologi, tetapi kemampuan berpikir kritis dan etis di tengah banjir informasi.
“Digitalisasi tanpa nalar kritis hanya akan melahirkan generasi yang cepat mengakses, tetapi lambat memahami,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus diiringi integritas dan tanggung jawab sosial.
“Teknologi itu netral, yang menentukan arah baik-buruknya adalah manusia yang menggunakannya. Karena itu, karakter dan etika harus menjadi fondasi utama mahasiswa di era digital,” jelas Aras.
Lebih lanjut, Aras mendorong mahasiswa agar tidak sekadar menjadi pengguna platform digital, tetapi mampu menciptakan nilai tambah melalui inovasi.
“Mahasiswa harus berani keluar dari zona nyaman, memanfaatkan teknologi untuk riset, kewirausahaan, dan pemberdayaan masyarakat. Di situlah peluang besar masa depan berada,” tambahnya.
Sesi tanya jawab yang dimoderatori Fahrul Bagenda menampilkan antusiasme peserta yang tinggi, membahas isu seputar kecerdasan buatan, ekonomi digital, dan tantangan dunia kerja pasca-kampus. Acara ditutup dengan penyerahan plakat dan sesi foto bersama.
Kegiatan ini digelar dengan tujuan agar mahasiswa tidak hanya memahami konsep revolusi digital secara teoritis, tetapi juga mampu menerjemahkannya dalam tindakan nyata.
“Masa depan bangsa sangat ditentukan oleh sejauh mana mahasiswa hari ini mampu membaca zaman dan menyiapkan diri secara cerdas dan bermartabat,” pungkasnya.