JAKARTA (SURAU.ID) – Minat Robin Syihab pada dunia komputer tumbuh sejak ia duduk di kelas 5 sekolah dasar. Tanpa memiliki perangkat sendiri, ia belajar secara autodidak melalui buku-buku yang dibacanya di pesantren. Kesempatan menggunakan komputer baru datang setelah pesantren menerima hibah perangkat dari pemerintah, meski dalam kondisi rusak.
Alih-alih menjadi kendala, kondisi itu justru memantik rasa ingin tahunya. Ia mencoba memperbaiki sendiri hingga akhirnya berhasil menyalakan perangkat tersebut.
“Di situlah aku coba ngodak-ngadik sendiri dan bisa benarin sendiri. Di situlah aku mulai semangat untuk belajar komputer,” ujar Founder Neuversity: School of Software Engineering itu.
Perjalanan pendidikannya berlanjut di Pondok Pesantren Riyadul Ulum, Kebumen, sebelum kemudian menempuh pendidikan menengah di Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri. Pada masa sekolah menengah atas, ia menciptakan program antivirus bernama Ansaf untuk menjawab persoalan nyata: komputer sekolah yang kerap terserang virus.
“Ansaf itu antivirus pertama kali yang saya buat pada waktu itu,” katanya, dalam kanal Youtube NU Online, dikutip Selasa (10/2/2026) malam.
Sejak awal, Robin memandang komputer sebagai alat untuk memecahkan persoalan manusia. Sistem komputer, menurut dia, menghadirkan kepastian logika yang dapat dihitung dan diprediksi. Kepribadiannya yang cenderung introvert juga membuat interaksi dengan mesin terasa lebih mudah.
“Jauh lebih mudah ketika kita berkomunikasi dengan mesin daripada dengan manusia,” tuturnya.
Robin menilai tradisi hafalan di pesantren berperan penting dalam membentuk pola pikir logis yang relevan dengan pemrograman. Hafalan melatih kemampuan mengingat kata kunci, memahami alur, sekaligus menjaga fokus dalam rentang perhatian yang panjang.
“Hafalan ini ternyata enggak sembarangan. Dari hafalan itu kita bisa mengingat banyak kata kunci dan bagaimana sebuah alur berjalan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kemampuan menjaga fokus menjadi tantangan bagi generasi digital saat ini. “Anak-anak zaman sekarang susah memahami konteks yang panjang, sehingga ketika memecahkan masalah yang rumit mereka bisa lost di tengah jalan,” tambahnya.
Karena itu, ia mendorong keseimbangan antara pendidikan keagamaan dan penguasaan teknologi di pesantren melalui penyediaan ruang digital dan ruang riset.
“Ruang riset itu tujuannya menjawab rasa penasaran anak-anak, lebih ke eksplorasi,” jelasnya.
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, Robin melihat peluang besar bagi pesantren untuk tampil unggul melalui penguatan soft skill seperti komunikasi, kerja sama tim, kejujuran, dan adab.
“Hard skill bisa diselesaikan dengan artificial intelligence, tapi kejujuran dan kemampuan bekerja sama itu yang dicari perusahaan,” katanya.
Dalam bidang keamanan siber, faktor kejujuran bahkan menjadi kunci utama. Banyak pelanggaran sistem terjadi bukan karena kelemahan teknologi, melainkan faktor manusia. “Kalau orang tidak dididik kejujuran dan adabnya, itu rentan dieksploitasi bukan dari teknologinya, tapi dari humannya,” tegasnya.
Dengan keterbatasan sumber daya, ia mendorong pesantren membangun kemitraan dengan industri teknologi, mulai dari penyediaan ruang riset hingga skema talent pooling. Robin optimistis transformasi tersebut dapat berlangsung relatif cepat.
“Enggak perlu 20 tahun. Kalau pesantren menyediakan ruang digital, ruang riset, dan santri dijaga dari distraksi, saya rasa enggak sampai 10 tahun kita sudah mencapai supremasi itu,” ujarnya.
Ia juga menilai era teknologi membuka peluang luas bagi santri untuk menjadi solopreneur, seiring ketersediaan alat belajar yang semakin mudah diakses. Kunci utamanya tetap pada kemampuan memecahkan persoalan nyata di masyarakat.
“Santri bisa mencapai apa pun dengan alat belajar yang ada saat ini,” pungkas Robin.