(Surau.ID) – Dalam bentang sejarah pesantren di Jawa Timur, nama KH Badri Masduqi tidak bisa dilepaskan dari dinamika sosial-keagamaan di wilayah Probolinggo. Beliau bukan sekadar figur pengasuh pesantren biasa; Kiai Badri adalah perwujudan dari ketegasan prinsip, kedalaman ilmu alat (gramatika Arab), serta spiritualitas yang menyatu dalam satu napas perjuangan.
Lahir dan dibesarkan dalam tradisi keilmuan yang kental, Kiai Badri tumbuh menjadi sosok yang bervisi besar. Salah satu tonggak utama sejarah yang beliau tancapkan adalah pendirian Pondok Pesantren Badridduja di Kraksaan.
Nama “Badridduja”, yang secara harfiah berarti “Bulan Purnama di Tengah Kegelapan”, bukan sekadar identitas geografis, melainkan sebuah manifestasi filosofis tentang harapan beliau agar lembaga pendidikan tersebut mampu menjadi oase pencerahan bagi umat di tengah tantangan zaman.
Retorika Sang Singa Podium
Salah satu karakteristik yang paling melekat pada sosok KH Badri Masduqi adalah kemampuannya dalam berorasi. Di panggung-panggung pengajian, beliau dijuluki sebagai “Singa Podium”.
Gaya bicaranya yang lugas, tegas, dan berwibawa mampu menyihir ribuan jamaah yang hadir. Beliau tidak pernah ragu untuk menyuarakan kebenaran, meskipun hal tersebut sering kali menyinggung kepentingan politik penguasa pada masanya.
Namun, di balik ketegasannya di atas panggung, Kiai Badri adalah pribadi yang sangat santun dalam diskusi ilmiah. Ketajaman argumennya selalu berlandaskan pada referensi kitab kuning yang otoritatif, menjadikannya rujukan utama bagi para kiai muda dan santri di wilayah Tapal Kuda.
Pengabdian di Nahdlatul Ulama (NU)
Kiprah beliau di organisasi Nahdlatul Ulama merupakan catatan emas tersendiri. Sebagai Rais Syuriah PCNU Kraksaan, Kiai Badri dikenal sebagai pemimpin yang sangat disiplin dalam menjaga garis perjuangan organisasi (khittah).
Beliau memastikan bahwa NU di wilayahnya tidak hanya menjadi wadah berkumpulnya massa, tetapi juga menjadi benteng pertahanan akidah Ahlussunnah wal Jamaah.
Dedikasinya terhadap NU tidak hanya terlihat dari posisi strukturalnya, tetapi juga dari kesediaannya turun langsung ke desa-desa untuk melakukan pembinaan umat. Bagi beliau, organisasi adalah alat untuk melayani, bukan untuk mencari posisi atau keuntungan pribadi.
Karomah dan Sisi Spiritual yang Melegenda
Di kalangan masyarakat Probolinggo dan para santri, KH Badri Masduqi juga dikenal memiliki sisi spiritualitas yang kuat atau sering disebut memiliki karomah. Berbagai kisah tutur mengenai “kesaktian” beliau dalam menghadapi tantangan fisik maupun metafisik sering diceritakan secara turun-temurun.
Namun, yang menarik adalah sikap Kiai Badri terhadap fenomena tersebut. Beliau selalu menekankan kepada para pengikutnya bahwa karomah yang sesungguhnya adalah istiqomah keteguhan dalam menjalankan syariat dan nilai-nilai akhlak secara berkelanjutan.
Beliau tidak ingin para santrinya terjebak dalam kultus individu, melainkan lebih menekankan pada perubahan perilaku dan peningkatan intelektualitas.
Warisan Pendidikan dan Literasi
Kiai Badri sangat menyadari bahwa masa depan umat Islam bergantung pada kualitas pendidikannya. Di bawah asuhannya, Pesantren Badridduja tidak hanya mengajarkan hafalan, tetapi juga analisis mendalam terhadap teks-teks klasik. Beliau mendorong para santri untuk berpikir kritis dan solutif terhadap persoalan masyarakat.

Kini, warisan pemikiran beliau banyak diteliti oleh para akademisi. Karya-karya tulis dan catatan dakwah beliau menjadi sumber inspirasi bagi tesis dan disertasi di berbagai perguruan tinggi Islam, membuktikan bahwa relevansi pemikiran Kiai Badri melampaui sekat waktu dan ruang.
Hingga saat ini, meskipun raga beliau telah tiada, spirit KH Badri Masduqi tetap terasa di setiap sudut Kraksaan. Beliau mengajarkan kita bahwa seorang ulama harus memiliki tiga hal utama: integritas moral, kedalaman ilmu, dan keberanian untuk berpihak pada kebenaran.
Keteladanan KH Badri Masduqi adalah sebuah pengingat bahwa kepemimpinan yang tulus akan selalu meninggalkan jejak yang tak terhapuskan. Beliau adalah sosok “Purnama” yang akan terus menyinari jalan bagi mereka yang mencari kebenaran dan keadilan dalam bingkai religiusitas yang moderat.