ASSISI (Surau.ID) – Menteri Agama Nasaruddin Umar memaparkan gagasan pluralisme progresif dan ekoteologi nusantara dalam Pertemuan Internasional untuk Perdamaian Sant’Egidio di Assisi, Italia, Senin (26/10/2026).
Menag menegaskan bahwa Indonesia kini menjadi episentrum baru peradaban Islam modern yang inklusif. Konsep pluralisme progresif menekankan penghormatan tulus atas perbedaan tanpa penyeragaman, melampaui batas toleransi pasif semata.
Sementara itu, ekoteologi nusantara mengajak dunia merawat alam dari krisis iklim melalui pendekatan spiritualitas sufistik. Pendekatan ini mengubah pandangan eksploitasi alam menjadi kepedulian yang penuh kasih sayang.
Praktik Ramah Lingkungan
Gagasan ekoteologi dibuktikan melalui peremajaan Masjid Istiqlal sebagai tempat ibadah ramah lingkungan. Langkah tersebut berhasil meraih sertifikasi bangunan hijau internasional atas penghematan energi dan efisiensi air.
“Manusia dituntut melakukan eksplorasi yang merawat, bukan eksploitasi yang merusak,” tegas Nasaruddin Umar di hadapan para tokoh agama dunia yang menghadiri forum internasional tersebut.
Inspirasi Kerukunan Global
Para tokoh agama dunia memberikan apresiasi tinggi atas gagasan peta jalan baru harmoni global ini. Pendekatan spiritual Nusantara dinilai mampu menjadi instrumen diplomasi efektif dalam menyelesaikan krisis kemanusiaan.
Agenda kunjungan Menag dilanjutkan ke Vatikan guna memperkuat kemitraan strategis dan dialog keagamaan antarumat beragama di tingkat internasional.
Langkah diplomasi spiritual ini menegaskan kepemimpinan Indonesia dalam menyebarkan nilai toleransi dan kelestarian lingkungan bagi perdamaian dunia.