PROBOLINGGO (Surau.ID) – Sejarah Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong tidak hanya mencatat kiprah para ulama besar yang memimpin lembaga tersebut, tetapi juga menyimpan jejak kehidupan sosok-sosok istimewa yang dikenal karena kedalaman ilmu dan ketulusan ibadahnya. Salah satu nama yang hingga kini tetap dikenang oleh kalangan santri dan ulama adalah Nun Abdul Jalil, putra Kiai Ahmad Nahrawi dan Nyai Marfu’ah.
Meski terlahir dengan kondisi fisik yang tidak sempurna akibat kelumpuhan sejak kecil, Nun Abdul Jalil dikenal sebagai pribadi yang memiliki keteguhan luar biasa dalam menempuh jalan spiritual. Keterbatasan itu tidak menghalanginya untuk mencapai kedudukan yang tinggi dalam pandangan para ulama sezamannya.
Di lingkungan pesantren, beliau dikenal sebagai sosok yang sangat sederhana. Kehidupannya jauh dari kemewahan dan lebih memilih menjalani hari-hari dalam suasana yang serba terbatas.
Nun Abdul Jalil menempati rumah sederhana berdinding anyaman bambu dengan lantai tanah. Perabot yang digunakan pun sangat minim, sementara tempat tidurnya hanya berupa dipan bambu tanpa alas kasur.
Kesederhanaan itu juga tercermin dari pakaian yang dikenakannya sehari-hari. Sarung dan baju yang digunakan sering kali penuh tambalan hasil jahitan tangan.
“Ketika beliau wafat, beliau hanya meninggalkan satu kain sarung. Itu pun merupakan sisa-sisa dari empat sarung tua yang dipotong dan dijahit menjadi satu,” kenang salah seorang santri kuno Ustadz Mohammad Hasan Qalyubi.

Beliau menetap di lingkungan Asrama K yang berada di belakang Masjid Al-Barokah Genggong. Kamar sederhana yang pernah ditempatinya hingga kini masih dirawat dan kerap dijadikan tempat bermunajat oleh para santri.
Nama Abdul Jalil yang disandangnya memiliki kisah tersendiri. Nama tersebut terinspirasi dari seorang alim asal Warung Dowo, Pasuruan, yang dikenal saleh dan memiliki kedekatan spiritual yang tinggi.
Harapan keluarga agar nama tersebut membawa keberkahan kemudian seolah terwujud. Walaupun tidak menempuh pendidikan formal dalam waktu lama, Nun Abdul Jalil dikenal memiliki keluasan ilmu agama yang membuat banyak kalangan menaruh hormat kepadanya.
Kemampuan beliau dalam bidang fiqih menjadikannya tempat bertanya berbagai persoalan keagamaan. Sejumlah ulama besar di wilayah tapal kuda Jawa Timur disebut pernah meminta pandangan beliau untuk menyelesaikan persoalan hukum Islam yang rumit.
Salah satu kisah yang sering diceritakan adalah keterlibatannya dalam memberikan pandangan hukum terkait persoalan iddah pasangan yang bercerai. Fatwa yang disampaikan dinilai mampu memberikan jalan keluar atas persoalan tersebut.
Selain dikenal alim, berbagai kisah karamah juga melekat pada sosoknya. Sejumlah santri dan masyarakat menuturkan pengalaman yang dianggap berada di luar kebiasaan manusia pada umumnya.
Meski demikian, keistimewaan yang paling sering dikenang justru bukan karamahnya, melainkan kebersihan hati dan keikhlasannya. Dalam berbagai kesempatan, beliau lebih menekankan pentingnya memperbaiki hati dibanding mengejar kedudukan atau kemasyhuran ilmu.
“Lebih baik berdoa meminta dibersihkan hati daripada memiliki banyak ilmu tetapi nantinya justru lupa diri karena hati yang kotor.”
Prinsip tersebut dijalani hingga akhir hayatnya. Bahkan ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan, termasuk wafatnya putri semata wayang yang masih berusia tujuh bulan, beliau tetap menunjukkan sikap ridha dan tawakal.
Nun Abdul Jalil wafat pada usia 27 tahun pada Selasa Wage, 1 Rabiul Awal 1378 Hijriah. Kendati usianya singkat, keteladanan tentang kezuhudan, keikhlasan, dan kecintaan terhadap ilmu yang diwariskannya masih hidup dalam ingatan para santri hingga sekarang.