PROBOLINGGO (Surau.ID) – Pengurus Komisariat (PK) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Institut Badri Mashduqi (IBAMA) menggelar Kajian Komisariat bertajuk “Mengenal Lebih Dekat Organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia”, Kamis (21/5/2026). Kegiatan yang menyasar para kader baru ini dilaksanakan secara daring melalui platform Google Meet mulai pukul 15.00 WIB.
Untuk membedah materi fundamental organisasi tersebut, PK PMII IBAMA menghadirkan fungsionaris Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Timur, Badrul Nurul Hisyam, sebagai pemateri utama.
Forum yang berlangsung khidmat ini berfokus pada internalisasi sejarah, visi perjuangan, serta penanaman spirit Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja).
Kilas Balik dan Independensi Organisasi
Dalam sesi pertama, Badrul Nurul Hisyam memaparkan secara deskriptif mengenai rekam jejak sejarah berdirinya PMII.
Ia menjelaskan secara runtut bahwa organisasi ini lahir pada 17 April 1960 di Surabaya, yang dimotori oleh deklarasi para mahasiswa Nahdliyin yang tergabung dalam Panitia Sembilan.
“PMII lahir bukan karena kepentingan pragmatis, melainkan jawaban atas tuntutan zaman pada era 1950-an. Kader hari ini harus memahami dinamika sejarah, termasuk momentum penting Deklarasi Murnajati pada tahun 1972 yang menegaskan independensi PMII dari partai politik, demi menjaga khittah gerakan intelektual,” ujarnya.

Menakar Visi Perjuangan Lewat NDP
Memasuki materi visi perjuangan, peserta diajak membedah Nilai Dasar Pergerakan (NDP) sebagai kerangka ideologis PMII. Badrul menekankan pentingnya empat pilar transendental dan sosial yang terkandung dalam NDP.
“Tauhid (mengesakan Allah), Hablum minallah (hubungan manusia dengan Allah), Hablum minannas (hubungan sesama manusia), dan Hablum minal ‘alam (hubungan manusia dengan alam),” katanya.
Melalui materi NDP ini, para kader baru ditekankan untuk tidak hanya mengejar kesalehan ritual secara individual.
Lebih dari itu, kader PMII wajib bertransformasi menjadi agen perubahan yang memiliki kesalehan sosial serta kepedulian nyata terhadap kelestarian lingkungan hidup.
Mencetak Intelektual Organik Berbasis Manhajul Fikr
Pada sesi puncak, forum mendiskusikan tiga spirit utama PMII, yakni Intelektual, Progresif, dan berlandaskan Aswaja.
Badrul menegaskan bahwa PMII berkomitmen penuh untuk tidak melahirkan intelektual “menara gading” yang asing atau acuh terhadap realitas masyarakat di sekitarnya.
Sebaliknya, PMII berkomitmen mencetak Intelektual Organik mahasiswa yang menggunakan kapasitas keilmuannya untuk membaca realitas sosial dan konsisten membela kaum tertindas (mustadh’afin).
“Spirit progresif dan kritis tersebut kemudian dikunci oleh pilar Aswaja yang diposisikan sebagai Manhajul Fikr (metode berpikir),” tambahnya.
Dengan memegang teguh prinsip Tawasuth (moderat), Tawazun (seimbang), I’tidal (keadilan), dan Tasamuh (toleran), kader PMII dipersiapkan untuk menjadi benteng pertahanan NKRI dari ancaman radikalisme agama sekaligus liberalisme yang kebablasan.
Kajian ini diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif antara peserta dan pemateri, yang menunjukkan antusiasme tinggi dari para kader baru PK PMII IBAMA dalam mendalami ideologi organisasi.