KAIRO (Surau.ID) — Direktur Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI), Prof. Dr. KH. Ahmad Thib Raya, M.A., memimpin kegiatan pengabdian kepada masyarakat internasional bertajuk “Peningkatan Kapasitas Mahasiswa Indonesia di Kairo dalam Konteks Sosial Masyarakat Mesir dan Tata Kelola Keuangan serta Transaksi Internasional”, pada 28 September 2026.
Kegiatan yang berlangsung di kawasan Al Mahdi Ibn Baraka, Al Hadiqah Ad Dawleyah, Nasr City, Kairo, Mesir, tersebut melibatkan 54 mahasiswa Indonesia dengan menghadirkan tiga narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi pendidikan.
Program ini diarahkan untuk memperkuat kemampuan mahasiswa dalam memahami dinamika sosial masyarakat Mesir sekaligus meningkatkan literasi ekonomi, pengelolaan keuangan, dan transaksi lintas negara.
Direktur PKUMI, Ahmad Thib Raya, menegaskan bahwa pendidikan kader ulama harus melampaui penguasaan ilmu keislaman dan memberikan bekal kompetensi dalam menghadapi realitas kehidupan global.
“Kader ulama masa depan tidak cukup hanya memahami teks keagamaan. Mereka harus mampu membaca realitas sosial, memahami budaya masyarakat, dan memiliki kecakapan mengelola kehidupan ekonomi secara bertanggung jawab. Inilah bagian penting dari pendidikan ulama yang berwawasan internasional,” ujar Ahmad Thib Raya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (FEB UNUSIA), Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak., menyoroti pentingnya tata kelola keuangan bagi mahasiswa yang menjalani pendidikan di luar negeri.
Menurutnya, perbedaan sistem pembayaran, fluktuasi nilai tukar, biaya hidup, serta penggunaan layanan keuangan internasional memerlukan pemahaman yang memadai agar mahasiswa terhindar dari risiko finansial.
“Mahasiswa Indonesia di Mesir harus memiliki literasi keuangan internasional yang kuat. Mereka perlu memahami nilai tukar, transaksi perbankan, perencanaan anggaran, dan risiko pembayaran lintas negara. Tata kelola keuangan yang baik merupakan bentuk akuntabilitas pribadi sekaligus fondasi kemandirian ekonomi,” jelas Aras.
Narasumber lainnya, Muhammad Amin Bukhari, mahasiswa doktoral bidang Tafsir Universitas Al-Azhar Kairo, menjelaskan pentingnya kemampuan adaptasi sosial dan pemahaman karakter masyarakat Mesir.
“Memahami masyarakat Mesir membutuhkan lebih dari kemampuan berbahasa Arab. Mahasiswa perlu mengenali tradisi, etika komunikasi, kebiasaan sosial, dan cara masyarakat membangun hubungan. Adaptasi yang baik akan memperkuat proses akademik sekaligus menjaga citra positif Indonesia,” ungkap Amin.
Kegiatan ini mempertemukan perspektif keislaman, sosial-budaya, dan ekonomi dalam satu pendekatan penguatan kapasitas mahasiswa.
Melalui program tersebut, PKUMI bersama FEB UNUSIA diharapkan terus mengembangkan kolaborasi pengabdian internasional yang melahirkan generasi ulama berilmu, adaptif, mandiri secara finansial, dan mampu berkontribusi bagi masyarakat global.