Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
17 Februari 2026 | 14:37 WIB
Nasional

Puasa Ramadan 2026: Bukan Sekadar Ritual, Melainkan “Reset” Biologis Bagi Tubuh

WhatsApp Image 2026 02 17 at 14.18.59
Seorang pria tampak sabar menunggu waktu berbuka di hadapan hidangan nutrisi seimbang. (Foto: Surau.ID/Ist)

 

Surau.ID – Memasuki pertengahan Februari 2026, jutaan umat Muslim di Indonesia mulai menjalankan ibadah puasa Ramadan. Namun, di balik dimensi spiritualitasnya, dunia medis modern semakin mempertegas bahwa pola makan terjadwal selama puasa merupakan terapi preventif yang efektif bagi kesehatan metabolisme manusia.

Mekanisme “Autofagi” dan Pembersihan Sel

Dalam perspektif medis, puasa memicu proses yang dikenal sebagai autofagi. Mengutip dari tempo.com, dr. Artati Murwaningrum, Spesialis Penyakit Dalam, menjelaskan bahwa selama berpuasa, tubuh mengalami penyesuaian metabolisme.

“Tubuh harus menyesuaikan diri dengan jeda makan yang panjang. Proses adaptasi ini justru memberikan manfaat, di mana tubuh mulai membakar cadangan energi dalam bentuk lemak dan memicu pembuangan limbah sel,” ujar dr. Artati

Lebih lanjut, kualitas asupan saat sahur dan berbuka harus seimbang. Tanpa nutrisi seimbang, manfaat metabolisme dari puasa bisa hilang akibat lonjakan glukosa yang drastis saat berbuka

Proses autofagi ini sejalan dengan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cell Metabolism dan diperkuat oleh ulasan di New England Journal of Medicine. Saat tubuh tidak menerima asupan kalori selama minimal 12 jam, sel-sel mulai melakukan “pembersihan diri” dengan menghancurkan komponen protein yang rusak, yang berpotensi mencegah penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.

Melansir dari kompas.com, menurut Dokter Masludi, puasa juga terbukti secara klinis memperbaiki sensitivitas insulin. Hal ini sangat krusial bagi pencegahan Diabetes Tipe 2. Ketika seseorang berpuasa, kadar insulin dalam darah menurun secara signifikan, yang mempermudah pembakaran lemak tubuh.

“Disamping itu, puasa membantu mengontrol tekanan darah dan kadar gula, bahkan berpotensi memperbaiki gangguan pencernaan seperti maag jika dilakukan dengan pola berbuka yang benar,” jelasnya.

Manfaat puasa juga didukung oleh jurnal internasional. Berdasarkan studi yang diterbitkan oleh Harvard T.H. Chan School of Public Health, puasa intermiten (yang polanya serupa dengan puasa Ramadan) mampu: menurunkan stres oksidatif, Mlmengurangi kerusakan sel akibat radikal bebas, memperbaiki profil lipid, menurunkan kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida yang menjadi pemicu penyakit jantung.

Penulis: Badrul Nurul Hisyam
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id