Surau.ID – Memasuki pertengahan Februari 2026, jutaan umat Muslim di Indonesia mulai menjalankan ibadah puasa Ramadan. Namun, di balik dimensi spiritualitasnya, dunia medis modern semakin mempertegas bahwa pola makan terjadwal selama puasa merupakan terapi preventif yang efektif bagi kesehatan metabolisme manusia.
Dalam perspektif medis, puasa memicu proses yang dikenal sebagai autofagi. Mengutip dari tempo.com, dr. Artati Murwaningrum, Spesialis Penyakit Dalam, menjelaskan bahwa selama berpuasa, tubuh mengalami penyesuaian metabolisme.
“Tubuh harus menyesuaikan diri dengan jeda makan yang panjang. Proses adaptasi ini justru memberikan manfaat, di mana tubuh mulai membakar cadangan energi dalam bentuk lemak dan memicu pembuangan limbah sel,” ujar dr. Artati
Lebih lanjut, kualitas asupan saat sahur dan berbuka harus seimbang. Tanpa nutrisi seimbang, manfaat metabolisme dari puasa bisa hilang akibat lonjakan glukosa yang drastis saat berbuka
Proses autofagi ini sejalan dengan penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cell Metabolism dan diperkuat oleh ulasan di New England Journal of Medicine. Saat tubuh tidak menerima asupan kalori selama minimal 12 jam, sel-sel mulai melakukan “pembersihan diri” dengan menghancurkan komponen protein yang rusak, yang berpotensi mencegah penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.
Melansir dari kompas.com, menurut Dokter Masludi, puasa juga terbukti secara klinis memperbaiki sensitivitas insulin. Hal ini sangat krusial bagi pencegahan Diabetes Tipe 2. Ketika seseorang berpuasa, kadar insulin dalam darah menurun secara signifikan, yang mempermudah pembakaran lemak tubuh.
“Disamping itu, puasa membantu mengontrol tekanan darah dan kadar gula, bahkan berpotensi memperbaiki gangguan pencernaan seperti maag jika dilakukan dengan pola berbuka yang benar,” jelasnya.
Manfaat puasa juga didukung oleh jurnal internasional. Berdasarkan studi yang diterbitkan oleh Harvard T.H. Chan School of Public Health, puasa intermiten (yang polanya serupa dengan puasa Ramadan) mampu: menurunkan stres oksidatif, Mlmengurangi kerusakan sel akibat radikal bebas, memperbaiki profil lipid, menurunkan kolesterol jahat (LDL) dan trigliserida yang menjadi pemicu penyakit jantung.