SURABAYA (Surau.ID) – Penelitian terhadap Al-Qur’an menuntut kedalaman ilmu yang tidak hanya bersandar pada aspek linguistik semata, namun juga membutuhkan pemahaman sejarah (tarikh) yang komprehensif. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha, menegaskan bahwa pemahaman sejarah sangat krusial bagi para peneliti studi Al-Qur’an (mufassir). Hal ini penting agar konstruksi keilmuan yang digunakan utuh, sehingga produk tafsir atas ayat-ayat Al-Qur’an tidak menyimpang dari maksud dan arti yang sebenarnya.
Dalam kajiannya di Universitas Islam Indonesia yang dikutip pada Jumat (29/5/2026), Gus Baha memberikan contoh konkret melalui surat Ali ‘Imran ayat 97. Ayat tersebut berbunyi, “fîhi âyâtum bayyinâtum maqâmu ibrâhîm”, yang artinya, “Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) Maqam Ibrahim”.
Gus Baha menjelaskan bahwa ayat ini merupakan jawaban Allah atas keraguan orang Yahudi kala itu mengenai kenabian Nabi Muhammad SAW. Syarat utama menjadi nabi, selain harus saleh, adalah harus tercatat sebagai keturunan nabi-nabi sebelumnya. Orang Yahudi meragukan kenabian Nabi Muhammad karena mereka tidak percaya ada nabi yang berasal dari bangsa Arab, mengingat peradaban Arab saat itu dianggap terbelakang dan tidak memiliki tradisi membaca.
Bukti bahwa Nabi Muhammad adalah keturunan Nabi Ibrahim dibuktikan dengan jejak sejarah bahwa Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail, pernah hidup di Makkah dan membangun Ka’bah. Gus Baha meluruskan bahwa Maqam Ibrahim bukanlah kuburan, melainkan jejak atau bekas kaki Nabi Ibrahim di atas batu saat membangun Ka’bah bersama Nabi Ismail. Pengetahuan mengenai sejarah ini sangat vital bagi mufassir untuk memahami konteks ayat tersebut sebagai argumen Allah dalam meruntuhkan keraguan kaum Yahudi.
Selain sejarah, Gus Baha juga mengimbau peneliti tafsir untuk memperhatikan aspek basyariyah (kemanusiaan) yang dinisbatkan kepada para nabi dalam Al-Qur’an. Menurutnya, ayat-ayat yang menceritakan sifat manusiawi nabi harus dijelaskan dengan pemahaman yang mendalam.
Ia mencontohkan kisah Nabi Ibrahim saat meninggalkan Siti Hajar dan anaknya yang masih bayi di lembah Makkah yang tandus atas perintah Allah. Siti Hajar, sebagai manusia, tentu mengkhawatirkan ketiadaan makanan. Saat itu, Nabi Ibrahim hanya terdiam, sebuah sikap yang digambarkan Gus Baha sebagai sifat manusiawi seorang suami yang merasa kesulitan dalam memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, keyakinan Siti Hajar bahwa Allah tidak akan menelantarkan mereka menunjukkan kekuatan iman yang luar biasa.
Gus Baha menekankan bahwa mendiskusikan aspek ekonomi dan rezeki dalam kisah-kisah nabi tidak akan mengurangi kesakralan kenabian (nubuwah). Justru, dengan konstruksi pemahaman yang utuh, ayat yang terlihat biasa dalam kehidupan sehari-hari akan menjadi luar biasa. Peneliti tafsir diharapkan dapat menyajikan pemahaman yang komprehensif agar masyarakat dapat mengambil hikmah dari sisi kemanusiaan para nabi tersebut dalam menghadapi tantangan hidup.