KARAWANG (Surau.ID) – Peringatan 60 tahun KOHATI pada 17 September 2026 menjadi momentum krusial untuk mengevaluasi peran pembinaan kader perempuan di tengah gempuran dinamika politik organisasi.
Ketua Umum KOHATI HMI Cabang Karawang menekankan pentingnya otokritik mendalam agar usia enam dekade ini tidak sekadar dirayakan sebagai capaian sejarah yang kehilangan substansi.
Tantangan terbesar yang dihadapi lembaga saat ini adalah kecenderungan pergeseran fungsi, dari wadah pembinaan kapasitas menjadi instrumen perebutan pengaruh politik internal.
Khittah Pembinaan versus Logika Politik
Sejak berdiri pada 17 September 1966, KOHATI dirancang sebagai ruang aman guna menggembleng potensi intelektual, spiritual, serta sosial kader perempuan Muslim.
Proses perkaderan seharusnya berfokus pada pembentukan karakter dan kepekaan sosial, bukan sekadar rutinitas agenda seremonial atau kendaraan menuju jabatan struktural semata.
Persoalan muncul ketika logika politik menggeser logika pembinaan, sehingga loyalitas kelompok dan posisi organisasi lebih dihargai ketimbang kualitas serta gagasan nyata.
Menjaga Independensi dan Orientasi Organisasi
Politisasi terjadi saat lembaga dijadikan alat kekuasaan, yang berisiko merusak daya kritis serta independensi kader HMI-Wati dalam merespons isu publik.
“KOHATI semestinya menjadi tabir pemberdayaan, bukan jeruji keterbatasan,” tulis Resha Amelia Putri, Ketua Umum KOHATI HMI Cabang Karawang Periode 2026-2027 dalam refleksinya.
Keberlanjutan organisasi sangat bergantung pada keberanian untuk kembali ke khittah pembinaan demi melahirkan lulusan berintegritas yang mampu menjawab tantangan zaman.