BANYUWANGI, (Surau.ID) – Setiap musim penerimaan murid baru, keberadaan sekolah negeri yang kehilangan peminat kembali menjadi sorotan. Pada penerimaan murid baru tahun ajaran 2026/2027, misalnya, tiga SD negeri di Kabupaten Blitar dilaporkan tidak mendapatkan satu pun murid baru. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan sekolah sepi peminat bukan sekadar tentang kursi kelas yang kosong, tetapi juga menyangkut bagaimana sekolah mempertahankan kepercayaan masyarakat.
Kisah serupa pernah dialami SDN Temenggungan, Banyuwangi. Pada tahun ajaran 2023/2024, sekolah tersebut tidak menerima satu pun pendaftar. Setahun kemudian, tujuh siswa baru akhirnya masuk. Perubahan itu menjadi bagian dari dinamika yang dikaji dalam program pengabdian masyarakat yang dilakukan Slamet Hariyadi, Doktor Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember.
Bagi Slamet Hariyadi, yang akrab disapa Slahar, sedikitnya jumlah murid tidak boleh menjadi alasan turunnya mutu pendidikan.
“Saya berharap sekolah ini, walaupun memiliki sarpras yang kurang standar, muridnya tidak memenuhi kuota, tapi jangan sampai kualitasnya rendah, sudah jatuh tertimpa tangga,” ujar Slahar.
Lahir dan besar di Banyuwangi, Slahar memilih daerah asalnya sebagai lokasi pengabdian. Bersama tim Prosendi (Program Dosen Mengabdi di Desa Asal) Universitas Jember, ia mendampingi SDN Temenggungan untuk memperkuat kapasitas guru dalam merancang pembelajaran yang berpusat pada siswa, mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, sekaligus mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai alat bantu pembelajaran.
Persoalan SDN Temenggungan ternyata tidak berhenti pada minimnya jumlah siswa. Rendahnya partisipasi masyarakat, keterbatasan pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, serta tuntutan agar guru terus beradaptasi dengan perkembangan kurikulum dan teknologi menjadi tantangan lain.
Letak sekolah di tengah permukiman padat juga menghadirkan persoalan tersendiri. Halaman sekolah yang semestinya menjadi ruang bermain, berolahraga, dan beraktivitas bagi siswa turut menjadi jalur lalu-lalang warga. Akibatnya, sejumlah kegiatan siswa tidak selalu berlangsung dalam lingkungan yang ideal.
Dalam situasi seperti itu, pertanyaan orang tua terhadap sekolah pun ikut berubah. Mereka tidak lagi sekadar bertanya apakah anak bisa bersekolah di sana, tetapi juga apa yang akan diperoleh anak selama menempuh pendidikan.
“Orang tua sekarang berbeda dengan orang tua dulu. Mereka bertanya, dari sekolah ini, anak saya bisa apa?”
Pertanyaan tersebut kemudian menjadi salah satu pijakan dalam pendampingan. Pembelajaran tidak cukup hanya berlangsung sesuai buku dan kurikulum. Sekolah perlu memberi ruang kepada siswa untuk berpikir kritis, bekerja sama, memecahkan persoalan, serta menghubungkan pengetahuan yang diperoleh dengan kehidupan sehari-hari.
Untuk menjawab kebutuhan itu, tim Prosendi Universitas Jember menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR). Melalui pendekatan ini, guru tidak ditempatkan sekadar sebagai penerima program, melainkan sebagai mitra aktif yang terlibat sejak proses identifikasi masalah, perancangan solusi, penerapan perubahan hingga evaluasi.
Program berlangsung pada Januari hingga Juni 2025 melalui tiga tahapan, yakni pemetaan kebutuhan dan perencanaan, pelatihan serta pendampingan pembelajaran, kemudian evaluasi, refleksi, dan pelibatan masyarakat.
Kegiatan tersebut melibatkan kepala sekolah, enam guru, 45 siswa, serta sekitar 30 orang tua dalam sosialisasi dan pemberian umpan balik. Pada tahap awal, tim yang terdiri atas Andang Subaharianto dan Bea Hana Siswati bersama pihak sekolah memetakan lingkungan belajar, kompetensi digital guru, pemahaman terhadap kurikulum, serta kondisi sarana dan prasarana.
Temuan tersebut kemudian dibahas melalui diskusi kelompok terarah untuk menentukan bentuk pendampingan yang paling sesuai dengan kebutuhan sekolah.
Salah satu fokus utama program adalah memperkenalkan konsep pembelajaran mendalam atau Deep Learning dalam konteks pedagogis. Konsep ini berbeda dari istilah deep learning dalam teknologi kecerdasan buatan. Dalam pembelajaran, pendekatan tersebut mendorong siswa memahami konsep secara lebih mendalam, berpikir kritis, berkolaborasi, serta menghubungkan materi dengan persoalan nyata.
Guru juga diperkenalkan dengan pemanfaatan AI sebagai alat bantu pembelajaran, termasuk chatbot dan platform kuis digital yang relatif sederhana dan mudah digunakan.
Pendampingan tidak berhenti pada penyampaian teori. Guru diajak menyusun rencana pembelajaran, mengembangkan media, melakukan simulasi pemanfaatan AI, kemudian menerapkannya di kelas. Tim pengabdian selanjutnya mengamati proses pembelajaran dan memberikan umpan balik.
Siklus tersebut dilakukan melalui tahapan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi selama dua siklus pendampingan.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan kemampuan guru. Pemahaman terhadap konsep Deep Learning meningkat dari 35 persen menjadi 80 persen. Kemampuan menyusun rencana pembelajaran berbasis Deep Learning naik dari 25 persen menjadi 75 persen.
Sementara itu, kemampuan menggunakan AI dalam pembelajaran meningkat dari 20 persen menjadi 65 persen. Kesiapan guru untuk berinovasi juga mengalami peningkatan dari 40 persen menjadi 85 persen.
Perubahan tersebut diukur melalui pre-test, post-test, lembar observasi, jurnal reflektif, wawancara, serta evaluasi selama pendampingan. Dua ahli teknologi pendidikan turut meninjau instrumen untuk memastikan validitas isi. Validitas data diperkuat melalui triangulasi sumber dan member checking.
Inovasi pembelajaran yang diterapkan guru juga semakin bertambah. Pada bulan pertama tercatat satu inovasi berupa eksplorasi awal terhadap berbagai perangkat pembelajaran. Jumlahnya meningkat menjadi tiga inovasi pada bulan kedua, lima pada bulan ketiga, dan enam pada bulan keempat.
Inovasi tersebut meliputi penggunaan media dan metode pembelajaran baru, chatbot, kuis berbasis AI, hingga media pembelajaran berbasis video.
Perubahan tidak hanya terjadi di ruang kelas. Persepsi orang tua terhadap sekolah juga menunjukkan pergeseran. Pandangan bahwa SDN Temenggungan memberikan pendidikan berkualitas meningkat dari 30 persen menjadi 75 persen.
Pandangan bahwa sekolah siap menghadapi era digital naik dari 15 persen menjadi 60 persen. Kesediaan orang tua mendaftarkan anak meningkat dari 10 persen menjadi 70 persen, sementara dukungan terhadap kegiatan sekolah naik dari 20 persen menjadi 65 persen.
Data tersebut diperoleh melalui kuesioner sederhana kepada orang tua siswa dan calon orang tua siswa. Hasilnya menunjukkan perubahan positif terutama dalam persepsi terhadap kualitas pendidikan dan kesiapan sekolah menghadapi transformasi digital.
Dampaknya juga terlihat pada penerimaan murid. Setelah sebelumnya tidak mendapatkan pendaftar, SDN Temenggungan menerima tujuh siswa baru pada tahun ajaran 2024/2025. Jurnal yang memuat hasil pengabdian tersebut mencatat bertambahnya murid baru sebagai salah satu indikator ketahanan sekolah.
Namun, bagi Slahar, bertambahnya siswa belum berarti seluruh persoalan sekolah telah selesai.
Perubahan juga mulai terlihat dari prestasi nonakademik. Jika pada 2023 belum tercatat prestasi, pada 2024 siswa SDN Temenggungan berhasil meraih Juara Harapan I Pesta Pramuka Siaga dan Juara II Lampon Parade.
Bagi Slahar, capaian tersebut bukan semata-mata tentang trofi.
“Anak-anak itu kalau diberi jempol sama gurunya saja sudah senang, apalagi bisa mendapatkan trofi. Itu validasi bagi mereka agar tidak merasa minder walaupun di sekolah yang kecil,” ujarnya.
Karena itu, menurut Slahar, membangun kembali kepercayaan terhadap sekolah kecil tidak cukup hanya dengan mengejar jumlah murid. Potensi seni, olahraga, keterampilan, dan berbagai kemampuan lain yang tidak selalu tercermin dalam nilai akademik harus menjadi bagian dari kekuatan sekolah.
Dampak pendampingan pun kemudian meluas ke luar ruang kelas. Slahar turut mendorong penataan lingkungan sekolah melalui komunikasi dengan lurah setempat, Dinas Pendidikan, dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
Salah satu persoalan yang dibahas adalah posisi sekolah di tengah permukiman padat yang membuat halaman sekolah turut menjadi akses lalu-lalang warga. Usulan pemindahan sekolah ke lokasi yang lebih layak sempat muncul, tetapi belum dapat direalisasikan karena keterbatasan lokasi yang tersedia.
Menurut Slahar, hasil konsultasi dengan Pemerintah Kabupaten dan Dinas Pendidikan Banyuwangi kemudian mengarah pada rencana merger SDN Temenggungan dengan sekolah dasar terdekat.
Rencana tersebut juga memiliki konsekuensi terhadap penerimaan murid. Dalam proses merger, sekolah tidak lagi diarahkan untuk menerima murid baru. Karena itu, masuknya tujuh siswa pada tahun sebelumnya tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai tanda bahwa seluruh persoalan sekolah telah teratasi.
Penataan tetap diperlukan agar keberlanjutan layanan pendidikan dapat berlangsung dalam lingkungan yang lebih mendukung.
Setelah program pendampingan berakhir, tantangan berikutnya adalah memastikan perubahan tidak berhenti ketika tim pengabdian meninggalkan sekolah. Guru didorong untuk terus berbagi praktik melalui komunitas belajar, sementara keterlibatan orang tua dan pemangku kepentingan pendidikan tetap dibutuhkan agar sekolah mampu merespons perubahan kebutuhan masyarakat.
Ke depan, Slahar melihat peluang pendampingan dapat diarahkan pada penggalian potensi nonakademik siswa sekaligus membangun kemitraan dengan berbagai pihak. Dukungan untuk sekolah kecil, menurutnya, tidak selalu harus berbentuk anggaran.
Bantuan dari dunia usaha melalui program CSR, misalnya, dapat diarahkan pada penyediaan perangkat komputer, media pembelajaran, maupun sarana lain yang membantu siswa mengembangkan potensi mereka.
Pengalaman SDN Temenggungan menunjukkan bahwa persoalan sekolah yang kehilangan peminat tidak memiliki satu jawaban sederhana. Dari sekolah yang sempat tidak menerima satu pun pendaftar, perlahan tumbuh kembali kepercayaan masyarakat.
Namun, mempertahankan keberlanjutan pendidikan membutuhkan lebih dari sekadar angka penerimaan murid. Dibutuhkan guru yang terus berkembang, pembelajaran yang bermakna, ruang bagi anak untuk menemukan potensinya, lingkungan belajar yang layak, serta dukungan pemerintah dan masyarakat.
Dalam konteks itulah pengabdian Universitas Jember memiliki arti lebih luas. Perguruan tinggi tidak sekadar membawa teknologi baru ke sekolah, tetapi hadir untuk mendampingi guru memahami persoalan, mendorong perubahan secara kolaboratif dari dalam sekolah, sekaligus membuka ruang dialog untuk menemukan jalan bagi masa depan pendidikan.