JEMBER, (Surau.ID) — Tim Program Pengabdian Universitas Jember (UNEJ) beranggotakan Prof. Dr. Akhmad Taufiq, Zahratul Umniyyah, S.S., M.Hum., Dr. Linda Dwi Eriyanti, M.A., Dr. Furoidatul Husniah, S.S., M.Pd., dan Irma Prasetyowati, S.KM., M.Kes. menggandeng Pemerintah Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, merintis Museum Bahari sebagai upaya melestarikan warisan budaya pesisir.
Inisiasi tersebut diawali melalui Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Konservasi Budaya Menuju Desa Mandiri Bahari: Fasilitasi Budaya melalui Museum Bahari di Desa Puger Kulon yang digelar pada Selasa (04/08). Kegiatan ini menjadi langkah awal menghimpun sejarah, tradisi, dan berbagai peninggalan budaya masyarakat sebagai fondasi pengembangan Museum Bahari.
Kegiatan diawali dengan registrasi peserta yang diikuti perangkat desa Puger Kulon, Kepala Desa, Kepala Dusun, Kaur Keuangan, Kaur Kesra, tokoh masyarakat, dan perwakilan Karang Taruna. Acara kemudian dibuka dengan prakata Ketua KERIS MFIP (Multiculturalism and Feminism for Innovative Policy) Universitas Jember, Dr. Linda Dwi Eriyanti, M.A., dan sambutan Kepala Desa Puger Kulon, Bapak Nur Hasan.
Usai pembukaan, Ketua Tim Program Pengabdian Universitas Jember, Prof. Dr. Akhmad Taufiq, S.S., M.Pd., memaparkan inisiasi Museum Bahari sebagai upaya mengonservasi budaya masyarakat pesisir Puger Kulon. Menurutnya, museum tidak hanya menjadi tempat menyimpan benda bersejarah, tetapi juga ruang belajar bagi generasi mendatang untuk mengenal identitas budaya daerahnya.
“Kehadiran Museum Bahari ini bisa mengenalkan kebudayaan leluhur kepada anak-anak generasi selanjutnya, entah itu dokumentasi upacara seperti Petik Laut dari waktu ke waktu, tembang dolanan, dan berbagai peninggalan budaya lainnya,” ujar Taufiq.
Inisiasi tersebut lahir dari upaya mengeksplorasi sekaligus mendokumentasikan kekayaan budaya sebagai identitas masyarakat pesisir. Desa Puger Kulon dipilih sebagai lokasi program karena memiliki sejarah panjang serta kekayaan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat.
Kepala Desa Puger Kulon, Bapak Nur Hasan, menyambut positif gagasan tersebut. Menurutnya, desa memiliki berbagai catatan sejarah yang dapat menjadi inventaris awal Museum Bahari.
“Puger Kulon memiliki sejarah panjang sejalan dengan beberapa catatan penelitian tahun 1876 sehingga harapannya melalui catatan penelitian, dokumentasi Petik Laut yang diselenggarakan saat ulang tahun desa ke-150 dapat menjadi bahan inventaris,” tuturnya.
Ia mengatakan, berbagai inventaris tersebut perlu dikaji lebih lanjut untuk memastikan validitas informasi sebelum dibukukan dan dijadikan koleksi museum.
“Selain itu, dalam bayangan kami, terkait museum ini pasti memerlukan gedung. Sementara itu, belum ada lokasinya sehingga diperlukan bantuan akademisi terhadap kebutuhan fasilitas tersebut,” ujarnya.
Hal tersebut turut disoroti oleh Bapak Eko selaku Kaur Keuangan yang menyoroti langkah awal terkait museum tersebut yang lebih ke arah persiapan fasilitas terlebih dahulu atau sumber daya manusia yang turut membantu jalannya inisiasi ini.
Menanggapi hal tersebut, Taufiq mengatakan bahwa program strategis Museum Bahari pada tahap awal dapat dilakukan langkah praktis dan sederhana, yakni dapat menghimpun dokumentasi sejarah, khazanah tradisi, dan benda-benda budaya yang masih dimiliki masyarakat agar tidak hilang ditelan zaman.
Seiring dengan itu, secara simultan dapat disiapkan atau memanfaatkan infrastruktur gedung yang telah dimiliki desa. Langkah ini menjadi penting agar mimpi mewujudkan Museum Bahari di Desa Puger Kulon sebagai pusat dokumentasi budaya pesisir di Jember dapat segera terealisasi.
Sebagai dampak positifnya diharapkan agar dengan hadirnya Museum Bahari tersebut menjadi langkah bagi program terpadu dengan eduwisata dan pengembangan ekonomi lokal pada masyarakat pesisir selatan di Puger Kulon dan sekitarnya.
Menjelang akhir kegiatan, tim pengabdian bersama Pemerintah Desa Puger Kulon dan perwakilan masyarakat mendiskusikan rencana pembentukan tim kecil, inventarisasi dokumen dan peninggalan budaya, dan penyusunan pengembangan Museum Bahari.
Sejalan dengan kegiatan FGD rancangan Museum Bahari, perwakilan masyarakat berharap museum tersebut dapat menjadi sarana edukasi kebudayaan yang dapat ditindaklanjuti pada tingkat jangka panjang, yang tidak hanya terhenti di beberapa tahun saja.