SIDOARJO (Surau.ID) — Istri Presiden RI ke-4, Sinta Nuriyah Wahid, menghadiri kegiatan buka puasa bersama komunitas Gusdurian Sidoarjo, sekaligus memberikan tausiyah kebangsaan yang menekankan pentingnya empati sosial, toleransi lintas iman, serta penguatan demokrasi yang berkeadilan, di GKJW Sidoarjo, Jumat (27/2/2026).
Sekitar 100 peserta dari berbagai unsur masyarakat, tokoh lintas agama, aparat keamanan, serta komunitas Gusdurian mengikuti kegiatan yang mengusung tema “Puasa Berbalut Bencana dan Goyahnya Demokrasi.”
Dalam tausiyahnya, Sinta Nuriyah menegaskan bahwa puasa tidak hanya memiliki dimensi ibadah personal, tetapi juga berperan sebagai pendidikan sosial yang membangun kepekaan terhadap penderitaan sesama.
“Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan proses pendidikan spiritual dan sosial yang membentuk kepekaan hati,” terangnya.
Menurutnya, situasi bangsa yang menghadapi bencana, krisis kemanusiaan, serta dinamika demokrasi menuntut masyarakat untuk menghadirkan empati nyata melalui aksi solidaritas, bukan sekadar praktik keagamaan simbolik.
Belajar Toleransi dari Gus Dur
Selain itu, Sinta Nuriyah menekankan bahwa perjumpaan lintas iman menjadi fondasi penting dalam menjaga persatuan Indonesia. Ia menyebut kegiatan buka puasa bersama di rumah ibadah lintas agama sebagai simbol persaudaraan kebangsaan yang perlu terus dirawat.
“Pentingnya menjaga persatuan dan kerukunan lintas iman sebagai fondasi moral bangsa,” tegas Sinta.
Dalam konteks demokrasi, ia mengingatkan bahwa demokrasi harus menghadirkan kejujuran, keadilan, serta keberpihakan kepada masyarakat kecil. Ia menilai demokrasi tidak boleh berhenti pada prosedur politik semata, tetapi harus memberikan rasa aman dan kesejahteraan bagi seluruh warga.
Lebih lanjut, Sinta Nuriyah menyoroti peran strategis masyarakat sipil dan tokoh agama dalam merawat harmoni sosial di tengah potensi polarisasi. Ia menyebut dialog, kerja bersama, serta aksi kemanusiaan sebagai kekuatan utama menjaga kebinekaan.
Ia juga mengajak masyarakat memanfaatkan momentum Ramadan sebagai ruang refleksi kebangsaan untuk menahan diri dari ujaran kebencian, provokasi, serta tindakan yang berpotensi merusak persatuan.
Menutup tausiyahnya, Sinta Nuriyah mengingatkan pentingnya melanjutkan perjuangan kemanusiaan dan pluralisme yang diwariskan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid, Gus Dur.
“Nilai rahmatan lil ‘alamin harus menjadi pijakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” pungkasnya.