Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
10 Maret 2026 | 16:34 WIB
Inspirasi

Nun Hafidz Soroti Anak Muda Pamer Tak Puasa di Ramadan, Sebut Tiga Faktor Penyebab

IMG
KH Hafidzul Hakiem Noer (Tangkapan Layar - Pijar Literasi/YouTube).

 

PROBOLINGGO (Surau.ID) – Fenomena sebagian anak muda yang tidak berpuasa di bulan Ramadan bahkan memamerkannya di ruang publik menjadi perhatian serius. KH Hafidzul Hakiem Noer menilai gejala tersebut tidak lepas dari sejumlah faktor, mulai dari aspek spiritual hingga krisis keteladanan di lingkungan sosial.

Hal itu disampaikan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Qodim yang juga menjabat Ketua PCNU Kraksaan tersebut dalam podcast yang disiarkan di kanal Pijar Literasi, Minggu (8/3/2026).

Faktor Pertama: Krisis Spiritual

Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan adanya kecenderungan sebagian anak muda yang justru merasa bangga melakukan kemaksiatan.

“Jadi memang ini seakan-akan saat ini anak muda sekarang itu kadang bangga dengan kemaksiatan. Na’udzubillah ya. Malah sekarang itu kadang metantang metengteng rokokan di pinggir jalan. Ketika kita melakukan hal-hal atau apa pun yang di luar syariat, ya dalam konteks maksiatlah, seharusnya kita tidak perlu bangga apalagi memamerkannya kepada orang lain, termasuk ketika tidak berpuasa,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa puasa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, ibadah tersebut menjadi tolok ukur kualitas ketakwaan seorang Muslim.

“Puasa sejatinya bukan hanya sebatas menahan haus dan lapar. Justru di situlah menjadi tolak ukur seseorang dalam melihat sejauh mana kualitas ketakwaannya. Kualitas ketakwaan itu dapat dilihat dari bagaimana seseorang memperlakukan Ramadhan: bagaimana ia menyambutnya, menjalaninya, dan memuliakannya. Dari situlah kualitas ketakwaan seseorang tercermin,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa sikap seseorang selama Ramadan dapat menjadi indikator kualitas iman dan akhlaknya.

“Kualitas ketakwaan siapa pun dapat dilihat di bulan Ramadhan. Baik kita, anak muda, ataupun siapa saja. Di bulan ini terlihat bagaimana cara seseorang bersikap, beribadah, dan berakhlak. Semua itu tercermin dari bagaimana ia menjalani Ramadhan,” ungkap Nun Hafidz.

Faktor Kedua: Keteladanan Sosial

Kiai yang akrab disapa Nun Hafidz ini juga menyoroti memudarnya keteladanan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Menurutnya, dahulu seseorang yang tidak berpuasa cenderung merasa malu jika diketahui orang lain.

“Kalau dulu itu kita kan malu, tidak puasa di depan orang malu. Ya kan? Lah kemunduran seperti ini juga karena apa? Aspek kedua itu dari pandang sosial, keteladanan ini sudah semakin rapuh,” paparnya.

Ia bahkan mencontohkan pengalaman saat mendapati seorang siswa yang tidak berpuasa, lalu memanggil orang tuanya untuk memberikan nasihat.

“Saya panggil orang tuanya. ‘Bu, Pak ini putranya tidak puasa tadi. Tolonglah dinasihati.’ Jawabannya enak. Katanya apa? ‘Tidak apa-apa dah, Nak. Wong saya tidak puasa juga di rumah. Tidak ada yang puasa.’ Ya Allah. Lah ini… waduh ini krisis keteladanan,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat sebagian anak muda tidak lagi memandang puasa sebagai kewajiban yang harus dijaga.

“Ramadhan ini bukan hanya sekadar bulan, tapi ini adalah madrasah rohaniah kata ulama, pendidikan rohaniah kita,” tambahnya.

Ia menegaskan pentingnya menanamkan nilai-nilai ajaran Nabi sejak dari lingkungan keluarga.

“Kalau di rumah kita ditegakkan syari’atun nabawiyah, diajarkan. Akhlakun nabawiyah juga diajarkan kepada anak-anak kita, pasti akan beda hasilnya,” tegasnya.

Selain itu, Nun Hafidz juga menilai pendekatan dakwah kepada anak muda perlu dilakukan dengan cara yang lebih menyentuh dan relevan.

Faktor ketiga: Dakwah

“Yang nomor tiga adalah dari aspek dakwah. Dakwah juga kadang kurang menyentuh untuk anak-anak muda. Edukasi tentang keislaman, tentang syariat, furudhul ‘ain ini kurang begitu sampai di kalangan anak muda saat ini sehingga mereka kadang gersang,” jelas Nun Hafidz.

Meski demikian, ia tidak sepenuhnya menyalahkan generasi muda karena sebagian dari mereka masih dalam proses mencari jati diri.

“Saya tidak mau menyalahkan mereka, karena ketika tidak puasa Ramadhan di pinggir jalan kadang mereka itu mencari jati dirinya juga, tapi belum menemukan karena tidak ada murabbi yang mau mengantarkan mereka,” paparnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pendekatan dakwah yang merangkul, bukan memukul.

“Islam itu merangkul, bukan memukul. Dalam Nahdlatul Ulama kita punya prinsip tawasuth, tasamuh, tawazun, dan ta’adul,” tuturnya.

Ia juga menilai pendekatan dialogis, seperti duduk bersama dan berbincang santai dengan anak muda, dapat menjadi jalan efektif untuk menyampaikan pesan keagamaan.

“Jangan dimarahi mereka, karena itu justru bisa membuat mereka semakin menjauh dari kita. Sebaliknya, duduklah bersama mereka. Saya sendiri sering duduk bersama mereka, kalau di pondok istilahnya poloan, makan bersama. Kadang kami juga sahur on the road bersama teman-teman, ziarah ke beberapa tempat, lalu sahur bersama,” cerita Nun Hafidz.

Menurutnya, melalui interaksi santai tersebut, nilai-nilai keislaman dapat disampaikan secara lebih halus dan mudah diterima.

“Makanya ada bahasa yang saya sampaikan tadi, bil hikmah wal mau‘idhatil hasanah. Dengan cara halus, lembut dengan mereka, baru mereka akan lebih mengenal Islam dengan seutuhnya,” pungkasnya.

Penulis: Ach Jalaluddin Ar Rumi
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id