SITUBONDO (Surau.ID) — Film pendek SATRIA (Santri Patriot Bangsa) karya sutradara sekaligus penulis Andi Ahmad Miskil Khitam berhasil meraih Juara I Lomba Film Pendek Situbondoan 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Situbondo. Pengumuman pemenang disampaikan pada Senin, (3/8/2026).
Film tersebut mengangkat kisah Bharaka, seorang pemuda yang harus menerima keputusan ibunya untuk menempuh pendidikan di pesantren, meski memiliki cita-cita menjadi prajurit TNI. Perjalanan itu membawanya pada proses mengalahkan ego, menghadapi kegagalan, serta memadukan nilai-nilai kesantrian dengan impian menjadi seorang patriot bangsa.
Mengusung pesan “Tidak semua jalan menuju cita-cita harus ditempuh dengan melawan. Terkadang, jalan itu justru ditemukan lewat ketaatan,” film SATRIA menghadirkan perspektif bahwa keberhasilan tidak selalu diraih melalui jalan yang mudah, melainkan melalui proses, doa, dan restu orang tua.
Penulis sekaligus sutradara Andi Ahmad Miskil Khitam mengaku bersyukur atas capaian tersebut. Menurutnya, penghargaan yang diraih merupakan hasil kerja bersama seluruh tim yang terlibat sejak tahap produksi hingga film selesai.
“Saya mengucapkan terima kasih pertama-tama kepada Allah SWT atas anugerah dimenangkannya film ini sebagai Juara I Lomba Film Situbondoan. Semua ini bisa terwujud atas izin Allah,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh kru, mulai dari produser, sinematografer, para pemeran, hingga tim produksi yang telah bekerja dengan penuh kekompakan.
“Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut terlibat dalam pembuatan film ini. Semua ini tidak akan terwujud tanpa kekompakan dari semua pihak,” katanya.
Andi mengungkapkan, film SATRIA lahir dari perpaduan beberapa kisah nyata santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo yang bercita-cita menjadi anggota TNI maupun Polri. Kisah-kisah tersebut kemudian dirangkai menjadi satu alur cerita yang inspiratif.
Menariknya, Andi sendiri merupakan pelatih ekstrakurikuler SATRIA (Santri Patriot Bangsa) di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Pengalaman itu membuatnya memahami langsung semangat para santri yang ingin mengabdikan diri kepada bangsa melalui jalur militer.
Menurutnya, film tersebut sengaja dibuat untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap santri. Ia menilai santri tidak hanya identik dengan kegiatan mengaji di pesantren, tetapi juga mampu berprestasi di berbagai bidang kehidupan.
“Saya ingin mengangkat bahwa sebenarnya santri itu tidak selalu dalam kacamata konvensional yang hanya sarungan, ngaji, belajar ilmu agama dan sebagainya. Santri itu komplet, kapabel dalam banyak hal, dan mampu menjadi jawaban atas berbagai kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, banyak santri yang sukses menjadi wirausahawan, seniman, akademisi, hingga mengabdikan diri sebagai anggota TNI maupun Polri tanpa meninggalkan nilai-nilai yang diperoleh di pesantren.
“Melalui film ini saya berharap bisa menginspirasi para santri yang ingin berkiprah di dunia militer, bahwa mereka tetap bisa menjadi tentara atau polisi dengan tetap membawa nilai-nilai jiwa sebagai seorang santri,” tuturnya.
Dukungan terhadap lahirnya karya-karya perfilman berbasis pesantren juga disampaikan Zaehol Fatah, Kepala Bagian Kreator Pesantren sekaligus Ketua S3TV. Menurutnya, film memiliki peran strategis sebagai media pendidikan sekaligus sarana membangun karakter bangsa.
“Saya mendukung perkembangan film di pesantren, karena sesungguhnya film merupakan edukasi yang sangat baik, dan dalam posisi lain digunakan sebagai soft war dalam bernegara,” ujarnya.
Film SATRIA juga menghadirkan KHR. Ach. Azaim Ibrahimy, S.Sy., M.H., Ph.D. sebagai salah satu pemeran, sehingga semakin memperkuat nuansa autentik kehidupan pesantren yang menjadi latar cerita.
Setelah berhasil meraih Juara I Lomba Film Pendek Situbondoan 2026, film SATRIA (Santri Patriot Bangsa) dijadwalkan segera tayang di KCM Roxy Situbondo, sehingga masyarakat dapat menyaksikan langsung kisah inspiratif tentang perjuangan seorang santri mengejar cita-cita menjadi prajurit dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai pesantren dan bakti kepada orang tua.