JAKARTA (Surau.ID) – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026, warga NU menaruh harapan besar terhadap kepemimpinan baru PBNU.
Dalam Diskusi Publik di Jakarta, Selasa 11/8/2026, warga dan tokoh NU menilai pemimpin masa depan harus mampu merangkul anak muda, memperkuat advokasi akar rumput, serta menjaga batas relasi dengan kekuasaan.
Forum strategis ini menyoroti pentingnya posisi strategis organisasi dalam merespons bonus demografi serta menjawab tantangan tata kelola organisasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Tantangan Kepemimpinan Di Abad Kedua
Ketua Umum KOPRI PB PMII, Wulansari Aliyatus Sholikhah, menegaskan bahwa anak muda harus diposisikan sebagai bagian penting dari NU saat ini, bukan sekadar menjadi masa depan organisasi.
Sementara itu, Wakil Katib Syuriyah PWNU Jakarta, KH Taufik Damas, mengingatkan agar pemimpin NU membatasi kedekatan dengan istana demi menjaga fungsi kontrol dan advokasi terhadap rakyat kecil.
Peran Organisasi Di Level Nasional Dan Global
Tokoh Muda NU, Hatim Al Ghazali, menambahkan bahwa modernisasi tata kelola harus memberikan dampak nyata bagi mayoritas jamaah yang berprofesi sebagai petani, nelayan, dan buruh.
“Demikian juga kepemimpinannya, tidak dalam menara gading sementara jamaah di bawah,” ujar Hatim Al Ghazali menyoroti pentingnya kedekatan pemimpin dengan umat.
Putri bungsu Gus Dur, Inaya Wulandari Wahid, juga menilai bahwa Muktamar ke-35 di awal abad kedua ini akan menjadi titik balik yang sangat berpengaruh terhadap dinamika organisasi dan kondisi politik Indonesia secara keseluruhan.
Melalui perhelatan akbar mendatang, kepemimpinan baru PBNU diharapkan mampu menjawab berbagai narasi perubahan zaman serta membawa kemaslahatan nyata bagi seluruh warga Nahdliyin di akar rumput.