LUMAJANG (Surau.ID) – Menyikapi rentetan tragis kecelakaan lalu lintas selama tiga hari berturut-turut, warga Desa Senduro menggelar ritual doa bersama secara khusyuk pada Rabu, 22 Juli 2026.
Tragedi mengerikan yang menimpa kawasan Jatian Senduro ini memicu keprihatinan mendalam seluruh elemen masyarakat. Kecelakaan beruntun tersebut mengakibatkan korban luka parah hingga patah tulang, serta beberapa kendaraan dilaporkan terbalik.
Rentetan insiden nahas di jalur tersebut sontak memunculkan keresahan kolektif di tengah hiruk-pikuk aktivitas masyarakat harian. Sebagai bentuk ikhtiar spiritual kolektif, warga setempat berinisiatif berkumpul untuk memanjatkan doa suci demi keselamatan para pengguna jalan raya.
Tradisi Tumpengan Tolak Bala
Ritual doa bersama ini dilakukan dengan membawa sajian tumpeng dan berbagai makanan tradisional khas desa setempat secara swadaya. Tradisi luhur ini diyakini masyarakat sebagai wujud rasa syukur atas nikmat kehidupan, sekaligus upaya batiniah untuk menolak bala agar kawasan tersebut kembali aman dan terhindar dari musibah serupa di masa depan.
Masyarakat lintas usia tampak berbondong-bondong memadati area lokasi Jatian yang belakangan kerap menjadi titik rawan kecelakaan maut. Kehadiran mereka membawa satu harapan besar, yakni agar jalur Jatian Senduro tidak lagi menjadi ancaman menakutkan bagi para pengendara yang melintas setiap waktu.
Harapan Keselamatan Dan Kedamaian
Kegiatan komunal yang sarat nilai religius ini diharapkan mampu memulihkan ketenangan psikologis bagi warga sekitar dan para pelintas jalan. Suasana haru dan solidaritas terlihat jelas dari berbagai panjatan doa tulus yang disematkan untuk keselamatan masyarakat bersama. “Semoga tidak ada kejadian lagi, selamet kabeh,” ujar Ali Mustofa, salah seorang warga yang turut hadir.
Tingginya angka insiden fatal di jalan raya sejatinya bukan semata urusan kelalaian teknis, melainkan menjadi momentum refleksi spiritual bagi warga. Kepedulian masyarakat Senduro membuktikan bahwa di tengah laju mobilitas modern, ikatan kebersamaan dan kekuatan doa tulus tetap menjadi pelita utama untuk memohon perlindungan Sang Khalik.
Hal ini selaras dengan asa warga lainnya, Eko Witono, yang menaruh harapan agar desanya terbebas dari kecelakaan maupun aksi kriminal, sehingga senantiasa aman, damai, dan sentosa.