PROBOLINGGO (Surau.ID) – Keluarga yayasan dan warga Desa Bucor Kulon, Pakuniran, Probolinggo, rutin menggelar pembacaan Ratibul Haddad setiap Sabtu malam di Masjid Ar-Razaq, dimulai tepat setelah pelaksanaan salat Maghrib berjamaah.
Agenda mingguan ini menjadi sarana spiritual yang mempererat silaturahmi antarwarga. Suasana khusyuk terbangun melalui lantunan ayat suci dan zikir yang dipanjatkan bersama-sama dalam sebuah ikatan komunitas yang sangat kental.
Rangkaian ibadah ini disusun secara sistematis, mencakup pembacaan surat Yasin sebagai pembuka, dilanjutkan dengan pembacaan Ratibul Haddad, serta pembacaan sholawat qiyam yang penuh kekhidmatan. Acara kemudian ditutup dengan doa bersama sebelum menunaikan salat Isya’ berjamaah.
Spiritualitas dalam Bingkai Tradisi Keagamaan
Kegiatan rutin ini bukan sekadar rutinitas ibadah semata, melainkan manifestasi dari upaya merawat tradisi keislaman yang telah turun-temurun di lingkungan Desa Bucor Kulon. Kehadiran keluarga yayasan bersama warga menjadi simpul kekuatan masyarakat dalam menjaga harmoni sosial melalui aktivitas religius.
Pembacaan Ratibul Haddad yang dilakukan secara konsisten di Masjid Ar-Razaq menjadi wadah bagi warga untuk mencari ketenangan batin. Keharmonisan yang tercipta selama prosesi ibadah mencerminkan nilai-nilai kebersamaan yang kokoh di tengah arus modernisasi.
Memupuk Kebersamaan Melalui Zikir Bersama
Langkah kolektif ini diharapkan mampu terus menghidupkan syiar Islam di wilayah Pakuniran sekaligus memberikan keberkahan bagi seluruh masyarakat sekitar. Partisipasi aktif warga dalam setiap pertemuan menjadi bukti kuatnya dedikasi mereka dalam menjaga tradisi keagamaan yang membawa dampak positif bagi ketenangan spiritual.
“Kegiatan ini adalah wujud syukur dan upaya kita untuk terus mendekatkan diri kepada Allah sembari menjaga kekeluargaan antar warga di desa ini,” ujar ustadzah Ramzatul Widad. Komitmen untuk terus melaksanakan kegiatan ini menunjukkan betapa pentingnya ruang-ruang spiritual dalam memperkokoh jati diri dan persaudaraan masyarakat.
Kesederhanaan dalam setiap rangkaian acaranya menyimpan kedalaman makna yang mampu menyentuh relung hati setiap jemaah.
Dengan terus merawat tradisi mulia ini, masyarakat telah menanam benih kedamaian yang akan terus tumbuh, menjembatani setiap perbedaan, serta memastikan bahwa nilai-nilai kebaikan senantiasa terjaga dalam hangatnya kebersamaan di setiap Sabtu malam yang penuh berkah.