PROBOLINGGO (Surau.ID) — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di kawasan Gunung Ringgit, Desa Sapikerep, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, diperkirakan telah membakar area sekitar 4,02 hektare.
Meski titik api terakhir sudah tidak terpantau hingga pukul 21.30 WIB pada Minggu (26/7/2026), petugas gabungan masih mewaspadai potensi munculnya kembali kebakaran susulan akibat kondisi cuaca panas, vegetasi kering, dan tiupan angin.
Data tersebut merupakan hasil monitoring sementara. Luasan final area yang terbakar masih menunggu asesmen resmi dari Perhutani.
Kebakaran pertama kali terpantau pada Sabtu (25/7/2026) sekitar pukul 01.30 WIB di kawasan Gunung Ringgit, Dusun III RT 20 RW 04, Desa Sapikerep.
Pada Minggu sekitar pukul 17.00 WIB, petugas masih mendapati satu titik api dengan intensitas yang mulai mengecil. Dalam pemantauan berikutnya hingga pukul 21.30 WIB, titik api tidak lagi terpantau.
Vegetasi yang terbakar terdiri atas semak belukar, rumput ilalang, akasia, cemara, dan kaliandra.
Dugaan sementara, kebakaran dipengaruhi kondisi cuaca berupa suhu udara tinggi, kelembapan rendah, vegetasi yang kering, serta angin cukup kencang. Faktor tersebut dinilai dapat mempercepat penyebaran api dan meningkatkan risiko munculnya titik api baru.
Penanganan di lapangan juga menghadapi kendala medan. Lokasi kebakaran berada di kawasan dengan kontur bertebing, curam, dan sulit dijangkau sehingga pemadaman manual harus dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan personel.

Setelah api padam, petugas gabungan masih melakukan pemantauan dan patroli di sekitar kawasan Gunung Ringgit. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan tidak ada titik api baru maupun bara yang kembali memicu kebakaran.
Hingga monitoring terakhir, situasi di lokasi terpantau aman dan kondusif. Tidak dilaporkan adanya korban jiwa ataupun kerusakan terhadap permukiman masyarakat.
Unsur yang terlibat dalam penanganan dan pemantauan antara lain TRC BPBD Kabupaten Probolinggo, TRC BPBD Provinsi Jawa Timur, Polhut, TNI, Polri, dan Agen Penanggulangan Bencana Jawa Timur.
Koordinasi lintas instansi juga terus dilakukan, termasuk dengan Perhutani, untuk memastikan perkembangan kondisi lapangan dan memperoleh data luasan area terdampak secara akurat.
Kesiapsiagaan tetap ditingkatkan karena apabila kondisi panas, kelembapan rendah, dan angin kencang berlanjut, potensi munculnya kembali titik api di lokasi yang sebelumnya terbakar maupun kawasan hutan di sekitarnya masih terbuka.