JAKARTA (Surau.ID) – Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa kecintaan terhadap Indonesia harus diwujudkan melalui pengabdian dan kesediaan menjaga kepentingan rakyat, bukan justru mengambil keuntungan dari negara.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam Ceramah Kebangsaan di Arsip Nasional Republik Indonesia, Jakarta, pada Selasa (18/8/2026), sebagai refleksi atas perjuangan panjang para pendiri bangsa dalam merebut dan merawat kemerdekaan.
Haedar mengingatkan bahwa komitmen berbangsa tidak cukup hanya disuarakan lewat slogan semata, melainkan harus dibuktikan melalui kerja nyata untuk memajukan Indonesia agar setara dengan bangsa lain di dunia.
Konsensus Nasional dan Negara Pancasila
Dalam pandangan Muhammadiyah, Indonesia diposisikan sebagai Darul Ahdi wa Syahadah, yang bermakna sebagai negara konsensus nasional sekaligus menuntut kewajiban seluruh warga untuk memberikan kontribusi nyata.
Keteladanan para tokoh pendiri bangsa, seperti sikap Ki Bagus Hadikusumo yang mengutamakan persatuan demi keutuhan bangsa, harus menjadi landasan moral dalam merawat kebhinekaan dan menjaga keutuhan NKRI.
Menolak Korupsi dan Kerusakan Alam
Kecintaan sejati kepada tanah air menuntut setiap elemen masyarakat, khususnya para pemegang amanah, untuk menjalankan kewajiban konstitusionalnya dengan menjauhi tindakan merugikan seperti korupsi.
“Cinta itu hakikatnya memberi, bukan meminta apalagi mencuri. Cinta sejati katanya itu selalu ingin memberi, bukan meminta,” ujar Haedar Nashir dalam ceramah kebangsaannya.
Momentum kemerdekaan ini harus dijadikan kesempatan bersama untuk memperbarui kesadaran kebangsaan, memperkuat kemandirian, serta mengerahkan kesungguhan berkontribusi sesuai dengan amanah masing-masing.