PROBOLINGGO (Surau.ID) – KH Moh Zuhri Zaini mengingatkan para santri untuk mewaspadai godaan kenikmatan duniawi yang tampak indah namun berpotensi memalingkan manusia dari tujuan hakiki.
Peringatan tersebut disampaikan dalam pengajian rutinan Kitab Riyadus Sholihin di Masjid Jami’ Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.
Kecenderungan mencintai harta, pasangan, serta perhiasan pada dasarnya merupakan fitrah manusia yang diperbolehkan. Kendati demikian, keterikatan emosional yang berlebihan kerap menjadi pemicu utama kelalaian menjalankan kewajiban agama.
Membedakan Kebutuhan dan Keinginan Nafsu
Manusia sering kali terjebak mengejar materi secara tak terbatas lantaran keliru menganggap kekayaan sebagai sumber utama kebahagiaan. Padahal, porsi kebutuhan fisik manusia pada hakikatnya sangat terbatas dibandingkan besarnya dorongan hawa nafsu.
Prinsip kecukupan harus diterapkan dalam membatasi konsumsi konsumtif harian. Asupan yang melampaui batas kebutuhan tubuh justru berisiko merusak kesehatan serta mengikis ketajaman mata hati.
Mencegah Tipu Daya Kenikmatan Sementara
Upaya mengendalikan nafsu memegang peranan krusial agar manusia tidak terbuai oleh ilusi kesenangan jangka pendek. Pesona dunia hendaknya disikapi secara proporsional sebatas sarana penunjang ibadah.
“Kita memang perlu makan, tetapi tidak perlu banyak. Satu piring sudah cukup untuk membuat kita kenyang,” ujar KH Moh Zuhri Zaini, Pengasuh Pesantren Nurul Jadid.
Kesadaran untuk menempatkan harta sebatas di genggaman tangan bukan di dalam hati menjadi kunci utama agar selamat dari jebakan kelalaian spiritual.