JOMBANG (Surau.ID) – KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya mengemban amanah spiritual sebagai Rais Aam PBNU periode 2026–2031 melalui penetapan muktamar di Tambakberas, Jombang pada Selasa, 1 September 2026.
Lahir di Surabaya pada 30 Juni 1953, ulama kharismatik ini merupakan putra pasangan KH Abdul Ghani dan Nyai Hj. Siti Ashfiyah yang memegang teguh tradisi keilmuan pesantren.
Perjalanan menuntut ilmunya melintasi berbagai pesantren legendaris, seperti Bahrul Ulum Tambakberas, Darul Ulum Rejoso, Sidogiri, hingga Pesantren Lasem Jawa Tengah. Di Lasem, kecerdasannya memikat KH Masduqie Allasimy yang kemudian menjadikannya menantu.
Pengabdian Dari Umat Untuk Bangsa
Kiai Miftach mendirikan Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di tengah kota Surabaya. Pesantren ini menjadi benteng spiritual dan oase dakwah bagi masyarakat urban yang haus akan nilai-nilai kedamaian Islam.
Pengabdian organisasinya merambat matang dari bawah, dimulai dari Rais Syuriyah PCNU Surabaya, PWNU Jawa Timur dua periode, hingga menjabat Penjabat Rais Aam PBNU mendampingi dinamika kepemimpinan nasional.
Representasi Keteladanan Ulama Salaf
Kiprahnya berlanjut saat Muktamar ke-34 di Lampung menunjukknya sebagai Rais Aam, serta sempat mengemban amanah Ketua Umum MUI sebelum berfokus penuh mengabdi pada jamiyyah Nahdlatul Ulama.
“Terpilihnya beliau membawa pesan spiritual kuat bahwa roda kepemimpinan NU tetap dinaungi ulama yang ikhlas serta mendalam keilmuannya,” ujar Ahmad Fauzi, pengamat tradisi pesantren.
Kembali terpilihnya Kiai Miftach menjadi cerminan konsistensi kepemimpinan Islam moderat yang merangkul seluruh warga nahdliyin serta menjaga keberlanjutan dakwah Islam rahmatan lil alamin di Indonesia.