Malang (Surau.ID) — Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar, mengajak ribuan Nahdliyin yang menghadiri Mujahadah Kubro Puncak Harlah 1 Abad NU (Masehi) untuk mendoakan keselamatan rakyat Palestina. Kegiatan tersebut berlangsung di Stadion Gajayana, Malang, Jawa Timur, Ahad (08/02/2026).
Saat memimpin doa, Kiai Miftach menegaskan pentingnya memohon pertolongan Allah SWT agar berbagai musibah yang menimpa umat manusia, termasuk di Palestina, segera mendapatkan jalan keluar.
“Sebagai solusi untuk lepas dari segala hal yang tidak menyenangkan, musibah yang sedang melanda saudara-saudara kita, solusi untuk saudara kita di Palestina dan semuanya, semoga mendapatkan jalan keluar yang terbaik. Amin,” ungkapnya.
Sebelum memulai doa, KH Miftachul Akhyar terlebih dahulu mengajak seluruh peserta menghadirkan hati yang khusyuk. Ia juga mengajak Nahdliyin mendoakan bangsa dan negara, serta memohon kelancaran Presiden RI Prabowo Subianto dalam menjalankan tugas kenegaraan.
“Kita sejenak menundukkan kepala, menghadirkan hati penuh khudu, khusyuk, hudur, merendahkan diri kepada Allah SWT untuk mendoakan negara kita, bangsa kita, presiden kita agar dalam melaksanakan tugas-tugas kenegaraan yang sikap tegas dan setia untuk mendampingi umat rakyat Indonesia, Allah memberikan kemudahan. Amin,” ujarnya.
Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya itu juga menyampaikan harapan besar bagi keberlangsungan jam’iyyah Nahdlatul Ulama dan kedaulatan Indonesia. Dalam doanya, ia memohon agar para ulama dan umat Islam dibangunkan dari kelalaian serta berharap NU di abad kedua terus memperoleh hayatan thayyibah (kehidupan yang baik) yang membawa kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.
Berikut teks doa yang dibacakan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar:
“Bismillahirrohmanirrohim. Allahumma sholli wasallim ala sayyidina Muhammadin wa ala alihi wasahbihi wasallim. Walhamdulillahi rabbil alamin. Amin. Allahumma antallahul malikul haqqul mubin. Al-qadimul muta’azzizu bil-’izzati wal-kibriya’. Al-hayyul qayyum, al-qadirul muqtadir, al-jabbarul qahhar. Alladzi la ilaha illa anta wala yaghfirudz-dzunuba illa anta ya Ghafur, ya Syakur, ya Halim, ya Karim, ya Shabur, ya Rahim. Allahumma inna nastahfidzhuka wa nastaudi’uka dinana wa anfusana wa ahlana wa auladana wa amwalana. Indonesia, Allahummaj’alna fi kanfika wa amanika wa jiwarika wa ‘iyadzika min kulli syaithanin marid wa jabbarin ‘anid wa dzi ‘ain.”
“Ya Allah, lindungi kami dengan penjagaan-Mu yang tak pernah tidur. Dekap kami dengan dekapan-Mu yang takkan pernah terjangkau. Sayangi kami maka kami tidak akan binasa. Dan Engkaulah harapan kami. Kami mengakui masih kecil rasa syukur kami atas sekian banyak nikmat yang Engkau anugerahkan pada kami. Dan kami mengakui betapa tidak sabarnya kami menghadapi sekian cobaan dan musibah. Ya Allah, ya Tuhan kami yang tak pernah memutus nikmat-Nya walaupun hamba-Nya kurang sekali mensyukurinya. Ya Allah, yang tidak membongkar rahasia hamba-Nya yang melakukan kemaksiatan. Kami mohonkan tambahan rahmat-Mu pada Nabi Muhammad SAW.”
“Allahummaghfir li-qulubil ulama wal muslimin min naumatil ghaflatil ‘amiqoh. Allahumma ya Hayyu ya Qayyum, ahyi jam’iyyatana Nahdlatul Ulama. Ya Allah, bangunkanlah hati para ulama dan hati para umat Islam dari kelalaian yang dalam dan berkepanjangan. Tuntunlah mereka ke jalan petunjuk-Mu.”
“Ya Allah, hidupkanlah jam’iyyah kami, Jam’iyyah Nahdlatul Ulama dengan kehidupan thayyibah hingga hari kiamat. Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, pertanian, dan semua apa yang dikeluarkan dari muka bumi Indonesia yang makmur ini. Anugerahi mereka kekuatan kejayaan yang mengalahkan semua kebatilan agar mereka bertakwa.”
“Rabbana atina mil-ladunka rahmatan wa hayyi’ lana min amrina rasyada. Rabbana fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah waqina ‘adzaban-nar. Subhana Rabbika Rabbil ‘izzati ‘amma yashifun, wasalamun ‘alal mursalin, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Bisirril Fatihah.”