PROBOLINGGO (Surau.ID) – Calon Ketua Cabang PMII Probolinggo nomor urut 1, Ahmad Rifa’i, menegaskan pentingnya membangun gerakan organisasi yang bersifat organik dan tidak bertumpu pada kepentingan individu maupun kelompok tertentu.
Pernyataan tersebut disampaikan Ahmad dalam debat kedua calon Ketua PC PMII Probolinggo yang berlangsung di Kantor KPU Kabupaten Probolinggo, Kamis (10/09/26). Debat mengangkat tema “Posisi PMII di Tengah Distrust Masyarakat terhadap Organisasi dan Pemerintah.”
Menurut Rifa’i, salah satu persoalan yang harus dijawab PMII adalah bagaimana organisasi dapat menjaga relevansinya di tengah menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap berbagai institusi, termasuk organisasi kemahasiswaan.
Ia menilai PMII harus kembali membangun hubungan yang nyata dengan masyarakat melalui gerakan yang lahir dari kebutuhan dan persoalan di lapangan.
“Gerakan kita harus organik. PMII bukan milik individu, bukan milik segelintir orang, tetapi milik bersama,” ucap Rifa’i.
Baginya, gerakan organik berarti organisasi tidak menentukan agenda hanya berdasarkan kepentingan elite internal. Sebaliknya, isu yang diperjuangkan harus berangkat dari persoalan masyarakat dan memiliki keberlanjutan pengawalan.
Rifa’i menegaskan bahwa kepentingan bersama yang harus menjadi orientasi PMII pada akhirnya adalah kepentingan masyarakat, bukan kepentingan segelintir kelompok.
“Kalau kita bicara kepentingan bersama, tentu kepentingan masyarakat. Bukan kepentingan segelintir kelompok,” tegasnya.
Karena itu, ia mendorong PC PMII Probolinggo agar memiliki mekanisme pengawalan isu yang lebih sistematis. Kader tidak cukup hanya turun ketika muncul momentum tertentu, kemudian berhenti setelah kegiatan selesai.
Menurutnya, persoalan masyarakat membutuhkan keberpihakan yang konsisten. PMII harus mampu mengidentifikasi persoalan, mengkaji akar masalah, membangun komunikasi dengan masyarakat, kemudian mengawal kebijakan yang berkaitan dengan persoalan tersebut.
“Isu-isu masyarakat harus kita kawal. Jangan hanya hadir ketika ada momentum. Gerakan harus berkelanjutan,” katanya.
Rifa’i juga menghubungkan gagasan tersebut dengan persoalan distrust masyarakat. Menurutnya, kepercayaan tidak dapat dibangun melalui slogan, melainkan melalui kerja nyata yang dapat dirasakan masyarakat.
PMII, lanjutnya, harus menunjukkan bahwa organisasi mahasiswa masih memiliki fungsi sosial dan mampu menjadi ruang artikulasi kepentingan masyarakat.
Dengan gerakan yang lebih organik, Rifa’i berharap PMII tidak hanya dikenal sebagai organisasi yang aktif secara internal, tetapi juga memiliki rekam jejak perjuangan di tengah persoalan masyarakat Probolinggo.
“Kalau kita ingin masyarakat percaya kembali kepada PMII, jawabannya bukan sekadar narasi. Kita harus hadir, bekerja, dan mengawal kepentingan masyarakat,” pungkasnya.