JAKARTA (Surau.ID) — Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta menyebut International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 sebagai ruang penting untuk merumuskan narasi baru Islam yang dapat berkontribusi lebih luas terhadap persoalan kemanusiaan global.
Menurut Anis, perubahan situasi dunia membuat wacana keislaman tidak cukup hanya membahas persoalan internal umat. Islam, kata dia, perlu menghadirkan gagasan yang mampu menjawab tantangan yang dihadapi masyarakat dunia secara lebih luas.
“Gagasan dari konferensi ini, sebagaimana telah dijelaskan Yang Mulia Menteri, adalah upaya untuk menyusun atau merumuskan narasi baru bagi wacana Islam yang dapat meningkatkan perannya dalam ikut menyelesaikan berbagai persoalan bersama masyarakat manusia,” ujar Wamenlu Anis saat memberikan speech dalam rangkaian IGIC 2026 di Jakarta, Sabtu (26/9/2025).
Empat Krisis yang Mengubah Tatanan Dunia
Anis mengatakan kebutuhan akan narasi baru tersebut muncul di tengah perubahan besar dalam tatanan global. Ia mengidentifikasi sedikitnya empat persoalan yang saat ini memengaruhi arah dunia, yakni krisis metodologi dan ideologi, perubahan keseimbangan kekuatan antarnegara, krisis institusi internasional, serta krisis kepemimpinan.
Menurut dia, persoalan pertama berkaitan dengan metodologi dan ideologi yang menjadi dasar sistem dunia saat ini. Sistem yang terbentuk setelah Perang Dunia II dinilai semakin menghadapi tantangan dalam menjawab berbagai kebutuhan masyarakat, termasuk persoalan keadilan sosial dan kesenjangan ekonomi.
“Penyebab pertama adalah krisis metodologi dan ideologi yang dihadapi oleh tatanan dunia,” jelasnya.
Selain persoalan tersebut, perubahan keseimbangan kekuatan global menjadi tantangan kedua. Anis kemudian menyebut krisis institusi internasional sebagai persoalan ketiga, yang turut berdampak terhadap kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga internasional.
Sementara itu, persoalan keempat adalah krisis kepemimpinan yang terjadi di berbagai negara. Menurut Anis, rangkaian persoalan tersebut membuat negara-negara besar harus menyesuaikan strategi mereka dengan perkembangan situasi global.
“Keempat krisis tersebut, yaitu krisis ideologi dan sistem, perubahan keseimbangan kekuatan, krisis institusi, dan krisis kepemimpinan, telah mendorong serta memaksa negara-negara besar untuk meninjau kembali strategi mereka dan beradaptasi dengan kondisi baru dunia,” paparnya.
Palestina dan Perubahan Cara Dunia Melihat Konflik
Anis kemudian mencontohkan persoalan Palestina untuk menggambarkan bagaimana perubahan narasi dapat memengaruhi cara masyarakat dunia memahami sebuah persoalan.
Ia menjelaskan bahwa isu Palestina mengalami sejumlah perubahan dalam cara pandang. Pada mulanya, konflik tersebut lebih banyak dipahami sebagai persoalan Arab-Israel. Pemahaman itu kemudian berkembang menjadi persoalan Islam-Zionisme sehingga perhatian dan keterlibatan masyarakat Muslim di berbagai negara semakin luas.
Namun, tragedi kemanusiaan dalam perang Palestina terakhir kembali mengubah cara isu tersebut dipahami. Menurut Anis, persoalan Palestina kemudian bergerak melampaui batas konflik politik dan agama.
“Namun setelah perang Palestina terakhir dan berbagai pemandangan tragedi kemanusiaan, terjadi perubahan penting dalam cara isu Palestina dipahami, yaitu sebagai persoalan antara kemanusiaan dan ketidakmanusiawian,” terang Anis.
Perubahan cara pandang itu, lanjutnya, membuat dukungan terhadap Palestina tidak lagi hanya datang dari negara-negara atau masyarakat Muslim. Perhatian terhadap isu tersebut juga berkembang di sejumlah kawasan lain, termasuk Eropa dan Amerika.
Bagi Anis, perkembangan itu menunjukkan bahwa sebuah narasi dapat memperluas jangkauan sebuah persoalan ketika mampu menghubungkannya dengan kepentingan kemanusiaan yang lebih universal.
Islam Tidak Hanya Bicara Umat, tetapi Juga Kemanusiaan
Dalam konteks perubahan global tersebut, Anis mengatakan narasi Islam ke depan perlu memiliki cakupan yang lebih luas. Wacana kebangkitan umat tetap diperlukan, tetapi Islam juga perlu menawarkan gagasan mengenai keselamatan dan keberlangsungan kehidupan manusia secara keseluruhan.
“Narasi yang dibutuhkan umat adalah narasi atau wacana kebangkitan di satu sisi, tetapi masyarakat manusia juga membutuhkan narasi untuk penyelamatan,” terangnya.
Ia mengingatkan bahwa konflik di berbagai belahan dunia tidak berhenti pada pihak-pihak yang terlibat langsung. Perkembangan teknologi persenjataan, menurutnya, telah membuat dampak sebuah konflik berpotensi menjangkau masyarakat dunia secara keseluruhan.
“Karena saat ini kita memiliki senjata yang cukup untuk menghancurkan seluruh umat manusia di muka bumi. Senjata yang ada saat ini, jika seluruhnya digunakan, cukup untuk menghancurkan dunia berkali-kali,” pungkasnya.