JOMBANG (Surau.ID) — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menegaskan hubungan Indonesia dan Palestina telah terjalin sejak masa perjuangan kemerdekaan. Menurutnya, hubungan tersebut tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarnegara, tetapi juga memiliki akar sejarah dari perjuangan KH Hasyim Asy’ari bersama para ulama dari berbagai negara.
Gus Kikin menyampaikan hal tersebut saat memberikan sambutan dalam acara Muhadhoroh ‘Ammah di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Ahad (27/9/2026). Acara itu dihadiri oleh Duta Besar Palestina untuk Republik Indonesia HE Abdulfattah AK Al-Sattari, Imam Besar Masjid Al-Aqsa Palestina HE Sheikh Mohammad AM Hussein, serta Penasihat Presiden Palestina Bidang Keagamaan HE Dr Mahmoud SA Al-Habbash.
Menurut Gus Kikin, keterikatan sejarah tersebut dapat ditelusuri dari perjuangan KH Hasyim Asy’ari ketika berada di Makkah. Pendiri Pesantren Tebuireng itu, kata dia, tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga membangun hubungan dengan para ulama dan pejuang dari berbagai negara Islam.
“Beliau di dalam mengajarkan ilmu-ilmu agama, beliau juga seorang pejuang-pejuang kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau memiliki hubungan yang sangat kuat di beberapa negara di tahun 1897. Beliau bersama para sahabatnya, setelah ditinggalkan oleh seorang gurunya, Syekh Nawawi Al-Bantani, pergi ke depan Multazam untuk berjuang bersama dengan sahabat-sahabatnya dari beberapa negara Islam untuk memerdekakan negara masing-masing. Salah satu adalah Malaysia, kemudian Mesir, dan di situ termasuk Palestina juga,” ujar Gus Kikin.
Ia menyebut perjuangan panjang KH Hasyim Asy’ari turut menjadi bagian dari perjalanan Indonesia menuju kemerdekaan pada 1945. Dari perjalanan tersebut, menurut Gus Kikin, hubungan Indonesia dengan Palestina telah terbentuk jauh sebelum kedua negara memiliki hubungan dalam konteks diplomasi modern.
“Indonesia akhirnya mendapatkan kemerdekaan pada tahun 1945 atas perjuangan panjang KH Hasyim Asy’ari. Karena itu, kita memiliki hubungan yang sangat panjang dengan Palestina,” katanya.
Dukungan untuk Palestina Terus Diwariskan
Gus Kikin juga menyebut KH Hasyim Asy’ari telah menyuarakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina sejak 1938. Dukungan tersebut, menurut dia, terus hidup di lingkungan Pesantren Tebuireng melalui tradisi doa untuk Palestina.
“Sekarang kita masih membacakan Qunut Nazilah yang dibaca setiap saat kita shalat berjamaah di Masjid Tebuireng. Ini dengan kita mendoakan Palestina, kemerdekaan Palestina, kesejahteraan Palestina itu dimulai diajarkan oleh Kyai Haji Hasyim Asy’ari sejak saat itu. Ini perjalanan yang hubungan yang sangat panjang antara Indonesia dan Palestina,” ungkapnya.
Kehadiran sejumlah tokoh Palestina di Tebuireng, lanjut Gus Kikin, menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan dan ukhuwah antara masyarakat Indonesia dengan Palestina serta negara-negara Islam lainnya.
“Alhamdulillah, kehadiran, kedatangan Imam Masjid Al-Aqsa beserta Duta Besar ini kita sambut dengan gembira. Ini menambah keakraban, meningkatkan ukhuwah persatuan bagi kita semuanya, terutama negara-negara yang memeluk agama Islam. Indonesia saat ini kurang lebih 87 persen beragama Islam. Penduduk Indonesia beragama Islam kurang lebih mencapai 280 juta orang,” tuturnya.
Dalam sambutan tersebut, Gus Kikin turut memaparkan perkembangan NU yang kini memasuki usia satu abad. Ia menyebut NU didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari pada 1926 dan terus berkembang hingga memiliki jumlah pengikut yang besar.
“KH Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama pada tahun 1926. Kemudian berkembang, dan saat ini, pada tahun 2026, Nahdlatul Ulama sudah berusia 100 tahun. Nahdlatul Ulama semakin banyak pengikut-pengikutnya. Saat ini kurang lebih 140 juta pengikut Nahdlatul Ulama, dan kita sangat-sangat baik dalam menjaga persatuan dan kebersamaan Nahdlatul Ulama. Kebetulan, saya satu bulan yang lalu, pada tanggal 31 Agustus, dipilih sebagai ketua umum pengurus besar,” jelasnya.
Gus Kikin mengatakan hubungan dengan Palestina tidak berhenti pada aspek sejarah dan solidaritas. Ia mendorong agar hubungan tersebut dikembangkan melalui kerja sama konkret, terutama di bidang pendidikan.
“Perlu juga kita membangun kebersamaan di Indonesia maupun di luar negeri bersama dengan negara-negara Islam yang lain, termasuk juga Palestina. Keakraban ini harus kita tingkatkan, hubungan-hubungan pendidikan, kemudian kerja sama-kerja sama di bidang-bidang yang lain. Kita harus saling mendukung, saling tolong-menolong, saling kita tingkatkan supaya kita sama-sama bisa berkembang, bisa lebih maju di masa-masa yang akan datang,” katanya.
Ia kemudian menjelaskan perkembangan Pesantren Tebuireng yang kini memiliki 14 lembaga pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
“Saat ini sudah berkembang ada 14 lembaga pendidikan yang ada di Tebuireng. Ini mulai dari tingkat dasar, sekolah menengah, kemudian tingkat perguruan tinggi. Ada dua perguruan tinggi, satu adalah Universitas Hasyim Asy’ari dan satu lagi adalah Ma’had Aly yang berfokus pada hadis,” ujarnya.
Menurut Gus Kikin, penguatan kerja sama pendidikan dengan Palestina dan negara-negara Islam lainnya dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas keilmuan.
“Kita perlu meningkatkan keilmuan di pondok pesantren maupun di Indonesia bersama negara-negara Islam lainnya, terutama Palestina, sehingga bisa meningkatkan kualitas pendidikan,” kata Gus Kikin.
Ia juga mengajak peserta Muhadhoroh ‘Ammah memanfaatkan pertemuan tersebut untuk berinteraksi langsung dengan para tokoh Palestina yang hadir di Tebuireng.
“Ini kesempatan untuk berkenalan dengan saudara-saudara kita di Palestina. Silakan dimanfaatkan untuk berdialog, bertanya, dan mengambil pengalaman yang bisa diterapkan di Pesantren Tebuireng,” pungkasnya.