Surau.ID – Kepadatan warga yang datang ke area terdampak banjir dan longsor di Sumatra dan Aceh kembali menjadi perhatian Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim (LPBI) PBNU. Fenomena “ziarah bencana” ini terlihat jelas berdasarkan pemantauan NU Online dan Tim NU Peduli pada Sabtu (6/12/2025), ketika perjalanan pulang dari Desa Salareh Aia Timur, Kecamatan Palambayan, Agam.
Lalu lintas yang semestinya hanya memakan waktu dua setengah jam menuju Bandara Internasional Imam Bonjol Padang berubah menjadi kemacetan panjang hingga lebih dari lima jam akibat ramainya warga dan kendaraan keluar masuk lokasi.
Merespons kondisi tersebut, pengurus LPBI PBNU M Ali Yusuf mengingatkan masyarakat untuk tidak menjadikan lokasi bencana sebagai tempat berfoto, berswafoto, atau sekadar tontonan. Ia menegaskan bahwa tindakan semacam itu bukan hanya tidak pantas, tetapi juga membahayakan keselamatan diri.
Menurutnya, wilayah yang terdampak bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat masih berada dalam kondisi sangat labil dengan potensi bencana susulan yang besar seiring puncak musim hujan hingga Februari 2026.
“Lokasi bencana di Sumatra dan Aceh saat ini masih rawan. Sangat besar kemungkinan terjadi ancaman bencana susulan. Jadi selfie atau ‘ziarah bencana’ itu bukan hanya tidak etis, tetapi juga rawan membuat kita menjadi penyintas atau korban,” ujarnya, Kamis (11/12/2025).
Ali menambahkan, bahkan relawan yang terlatih pun tetap diwajibkan meningkatkan kewaspadaan. Mereka harus memantau kondisi cuaca, memperhatikan perubahan situasi sekitar, dan memastikan setiap langkah aman bagi diri sendiri maupun korban yang dibantu.
“Relawan saja hari ini harus sangat hati-hati, mengatur penyaluran bantuan sambil terus waspada kanan-kiri. Jangan sampai mereka yang datang untuk menolong justru berubah menjadi korban karena lengah,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa masyarakat yang terdampak bencana sedang berupaya memulihkan hidup mereka, sehingga menjadikan lokasi bencana sebagai latar konten adalah tindakan yang tidak menghargai para penyintas.
“Saudara-saudara kita di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara sedang sangat membutuhkan bantuan dan dukungan, bukan dijadikan latar foto atau konten media sosial. Lokasi bencana bukan tempat tontonan,” ujar Ali.
Ali menutup dengan menegaskan bahwa siapa pun yang nekat masuk ke area rawan hanya untuk membuat konten justru berpotensi menghadapi risiko serius.
“Di banyak titik di Sumatra, situasinya belum benar-benar aman. Orang yang nekat foto-foto justru berisiko menjadi korban berikutnya,” katanya.