PROBOLINGGO (Surau.ID) — Wakil Bupati Probolinggo Ra Fahmi mengatakan penetapan Kraksaan sebagai ibu kota Kabupaten Probolinggo bukanlah keputusan tanpa dasar sejarah. Menurut dia, Kraksaan telah memiliki posisi strategis sejak masa lampau, bahkan pernah berdiri sebagai kabupaten tersendiri pada era kolonial.
“Dalam sejarahnya, Kraksaan sudah berdiri sebagai kabupaten. Jadi wajar jika kemudian ditetapkan sebagai ibu kota kawasan,” ujar Ra Fahmi saat peringatan hari jadi Kraksaan, Senin (5/1/2026).
Ia juga menyinggung riwayat penamaan Kraksaan yang diyakini berasal dari singgahnya Prabu Hayam Wuruk dalam perjalanan di wilayah Jawa Timur. Rasa betah sang raja disebut menjadi awal munculnya sebutan Kraksaan yang kemudian mengalami perubahan pelafalan hingga dikenal seperti sekarang.
Menurut Ra Fahmi, para pendahulu Kraksaan telah menunjukkan kemampuan membangun daerah meski dengan keterbatasan sarana dan teknologi. Pembangunan fisik maupun sumber daya manusia telah dilakukan sejak lama sehingga Kraksaan dinilai relatif siap menjadi pusat pemerintahan.
“Pembangunan fisik dan sumber daya manusia sudah dilakukan sejak dulu. Itu yang membuat Kraksaan relatif siap menjadi ibu kota,” katanya.
Namun demikian, Ra Fahmi menegaskan bahwa tantangan generasi saat ini justru lebih besar karena hidup dengan fasilitas dan sistem yang jauh lebih lengkap. Ia mengingatkan agar kemudahan tersebut tidak berujung pada penurunan kualitas pembangunan.
Ia pun mengkritik mutu pembangunan masa kini yang dinilainya belum sebanding dengan sistem pengawasan yang tersedia. “Dulu bangunan dibangun tanpa semen dan tanpa teknologi modern, tapi bisa bertahan ratusan tahun. Hari ini, dengan inspektorat, konsultan, dan pengawasan berlapis, ada bangunan lima tahun sudah ambruk,” ujarnya.
Menurut Ra Fahmi, kondisi tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius bagi seluruh aparat birokrasi dan pemerintahan daerah. Ia menekankan bahwa pembangunan ke depan tidak boleh sekadar mengejar target seremonial.
“Para pendahulu kita membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menghasilkan karya yang buruk. Sekarang pertanyaannya, apa yang bisa kita wariskan?” kata dia.
Ia berharap pembangunan Kraksaan sebagai ibu kota Kabupaten Probolinggo ke depan lebih berorientasi pada kualitas, keberlanjutan, dan manfaat jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat.