Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
11 Januari 2026 | 18:39 WIB
Aksara

Riya’ yang Paling Halus

IMG 20251229 WA0000
Moh Ferdiyansah (Surau.ID)

 

Penulis Moh Ferdiyansah*

PADA suatu malam yang tenang, diiringi hembusan angin halus, seorang santri muda dengan hati berdebar duduk di hadapan kiai. Dengan suara pelan ia bertanya, “Kiai… saya ingin bersedekah, tapi takut riya. Takut dibilang sok alim. Akhirnya saya tidak jadi melakukannya. Bagaimana menurut panjenengan?”

Kiai menatapnya, lalu memandang santri-santri lain. Senyum tipis terbit di wajahnya, seolah ia tahu bahwa pertanyaan itu bukan sekadar kegelisahan satu orang, melainkan penyakit yang hinggap di banyak hati.

Di sinilah pembahasan tentang riya’ menemukan maknanya. Para ulama menegaskan, riya’ adalah racun yang membunuh ruh ibadah. Ia menjadikan amal yang seharusnya tertuju kepada Allah justru berbelok kepada manusia. Rasulullah SAW bahkan menyebutnya sebagai syirik kecil, karena ketika seseorang beribadah demi pujian, ia sedang “menyekutukan” Allah dengan pandangan manusia. Beliau bersabda:

“Sesungguhnya sesuatu yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’.” (HR. Ahmad)

Masalahnya, riya’ tidak selalu tampak terang-terangan. Kadang ia hadir dalam bentuk yang sangat halus: seseorang bangun malam bukan karena rindu kepada Allah, melainkan karena ingin dikenal saleh. Tanpa niat itu, barangkali ia tidak akan bangun sama sekali. Begitu pula orang yang merasa “manis” ketika ibadahnya diketahui orang lain, seolah hatinya berbunga karena pujian, bukan karena kedekatan dengan Allah. Imam Ibrahim al-Matbuly memperingatkan:

“Hindarilah kehalusan riya’, karena dikhawatirkan hilangnya pahala amal dan gelapnya hati.”

Di titik ini, kita menyadari bahwa niat ibadah memang berat. Ada orang beribadah karena dunia: agar dihormati, dilihat, atau dimudahkan rezekinya. Ada pula yang beribadah karena ukhrawi: berharap pahala dan surga.

Bagi orang awam, campuran seperti ini masih dapat dimaklumi—setidaknya ia bergerak ke arah kebaikan. Tetapi bagi mereka yang menempuh jalan penyucian diri, ibadah yang benar adalah ibadah yang murni karena Allah, bukan demi balasan, dan bukan pula demi citra.

Namun, riya’ tidak hanya muncul ketika seseorang memamerkan ibadah. Ia juga muncul ketika seseorang meninggalkan ibadah karena takut dilihat manusia. Fudhail bin ‘Iyadh menegaskan:

“Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, mengerjakan amal karena manusia adalah syirik. Keikhlasan ialah ketika engkau selamat dari keduanya.”

Artinya, santri yang berhenti bersedekah karena takut dicap sok alim sebenarnya juga telah jatuh ke dalam riya’. Ia tetap menjadikan manusia sebagai pusat pertimbangan.

Riya’ seperti ini sering hadir dalam kehidupan sehari-hari. Salat dhuha dilakukan agar rezeki lancar. Zikir ditampakkan karena ada tokoh datang. Bahkan, diam-diam kita merasa bangga ketika amal diketahui orang lain. Amal yang semula bersih pun perlahan terkontaminasi.

Namun agama tidak datang untuk mematahkan semangat. Jika seseorang terlanjur terjatuh pada riya’, taubat yang sungguh-sungguh dapat menghidupkan kembali amalnya. Seperti tubuh yang sakit lalu diobati, pahala itu bisa kembali selama ia belajar memurnikan niat.

Barangkali, pelajaran dari pengajian malam itu adalah ini: jangan berhenti melakukan kebaikan hanya karena takut dikira pamer. Teruslah beramal sambil membersihkan hati, setahap demi setahap, hingga ibadah bukan lagi soal citra, melainkan perjumpaan sunyi antara hamba dan Tuhannya.

*) Mahasiswa Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Penulis: Moh Ferdiyansah
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id