Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
06 Desember 2025 | 13:37 WIB
Aksara

Baby Blues dan Tekanan Sosial

Generated Image December 06, 2025 12 52PM
Kuni Zakiyatan Nabila (Grafis Surau.ID)

 

Penulis: Kuni Zakiyatan Nabila*

DI BALIK kebahagiaan dan senyum seorang ibu yang menantikan kelahiran anak pertama, tersimpan perjuangan dan keletihan yang jarang terlihat oleh mata. Banyak orang beranggapan bahwa hadirnya buah hati selalu menghadirkan kebahagiaan. Padahal, tidak sedikit perempuan memasuki fase emosional yang penuh kelelahan, perubahan mood, dan kebingungan—yang dikenal sebagai baby blues. Ini bukan sekadar suasana hati yang buruk, melainkan kondisi psikologis nyata yang dapat memengaruhi cara seorang ibu bersikap, merawat bayi, dan merawat dirinya sendiri.

Persoalan muncul karena sebagian masyarakat masih mengabaikan kondisi baby blues pada ibu baru yang sedang beralih dari status lajang menjadi orang tua. Kita masih sering mendengar komentar bahwa ibu yang mengalaminya “berlebihan”, “kurang bersyukur”, atau “tidak siap menjadi ibu”. Padahal, tekanan sosial dan ekonomi justru memperberat baby blues syndrome, membuat ibu semakin rentan dan merasa sendirian.

Standar Sosial yang Tidak Realistis

Sejak lama, narasi tentang sosok ibu dibentuk sebagai pribadi dengan ketahanan luar biasa: selalu kuat, sabar, lembut, dan siap kapan pun tanpa mengeluh. Setelah melahirkan pun seorang ibu dituntut segera pulih, mengurus bayi, dan tetap tersenyum di hadapan keluarga maupun tamu.

Padahal, realitas yang dihadapi jauh lebih berat dari senyum yang ditampilkan: tidur yang kurang, perubahan hormon drastis, tubuh yang masih sakit, serta tanggung jawab baru yang begitu besar. Kondisi ini membuat ibu berada dalam posisi mental yang rentan dan mudah emosional. Tak jarang, ketika merasa kewalahan, muncul rasa bersalah karena merasa tidak sesuai dengan standar “ibu ideal” versi masyarakat.

Media sosial turut memperburuk keadaan. Foto-foto ibu muda yang tampak rapi, bahagia, dan penuh kemewahan sering dijadikan tolok ukur keberhasilan menjadi ibu. Sementara banyak ibu lain berada pada titik yang berbeda: lelah, bingung, dan membutuhkan dukungan, bukan perbandingan.

Ibu Tidak Punya Ruang untuk Didengar

Salah satu faktor utama munculnya baby blues adalah kurangnya dukungan emosional. Banyak ibu baru tidak memiliki ruang aman untuk bercerita atau merasa sungkan mengungkapkan kesulitan beradaptasi dengan status barunya. Kalimat yang sering diterima pun tak jauh dari:
“Ya sabar, namanya juga punya anak.”
“Memang sudah kodratnya.”
“Kalau mengeluh berarti kurang bersyukur.”

Padahal, yang dibutuhkan seorang ibu adalah didengarkan: diberi motivasi, ruang bernapas, dan dukungan. Namun curhatan sering dianggap sebagai kelemahan, bukan kebutuhan. Akibatnya, ibu menyimpan emosinya sendiri, merasa sendirian, dan akhirnya terjebak dalam baby blues syndrome.

Siapa yang Harus Peduli?

Jawabannya sederhana: semua orang harus peduli.

Suami merupakan figur paling penting dalam mendampingi ibu baru. Ia perlu hadir secara utuh—bukan hanya membantu mengurus bayi, tetapi juga hadir secara emosional: tidak menghakimi, menjadi tempat berbagi cerita, dan ikut meringankan beban rumah tangga tanpa mengabaikan tanggung jawab utama sebagai kepala keluarga.

Keluarga besar juga harus peka. Komentar yang bisa melukai perasaan ibu baru sebaiknya dihindari:
“Kenapa bayinya kurus?” “Kok bayinya nangis terus?” Pola komentar seperti ini harus diubah menjadi bentuk dukungan agar baby blues dapat dicegah.

Tenaga kesehatan juga perlu proaktif memberikan edukasi tentang baby blues sejak masa kehamilan, mendampingi ibu, dan memeriksa kesehatan mental pada masa pra dan pasca melahirkan.

Terakhir, lingkungan sosial harus berhenti menganggap baby blues sebagai drama ibu baru. Bantuan kecil—seperti menawarkan waktu untuk menggendong bayi agar ibu bisa beristirahat— dapat berarti besar.

Semua pihak harus bekerja bersama mencegah baby blues, karena dampaknya bukan hanya pada kesehatan ibu, tetapi juga pada cara ibu berinteraksi dengan bayinya. Tidak sedikit kasus baby blues berujung pada tragedi yang mengancam keselamatan bayi. Peduli pada baby blues berarti peduli pada keluarga, pada anak-anak, dan pada kualitas generasi masa depan.(*)

*) Mahasiswi Psikologi Islam UIN KHAS Jember

Penulis: Kuni Zakiyatan Nabila
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id