Probolinggo (Surau.ID) — Pondok Pesantren Nurul Jadid menggelar Bahtsul Masa’il dalam rangka memperingati Haul dan Harlah ke-77. Kegiatan ini berlangsung di Aula I Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo, Kamis (15/1/2026).
Bahtsul Masa’il tersebut diikuti 35 peserta se-Jawa Madura yang terbagi dalam dua komisi. Sebanyak 20 peserta tergabung dalam Komisi A dan 15 peserta lainnya berada di Komisi B. Para peserta akan membahas berbagai persoalan keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat.
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH. Moh. Zuhri Zaini, dalam sambutannya, menegaskan bahwa Bahtsul Masa’il ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial peringatan haul dan harlah pesantren. Tetapi, selain bisa berhasil merumuskan hukum dan menanggapi problem yang berkembang di masyarakat, kami juga ingin tabarrukan di tempat Bahtsul Masa’il ini.
“Karena pondok ini tidak bisa secara mandiri melaksanakan Bahtsul Masa’il dan pondok ini bukan pondok salaf,” ujar KH. Moh. Zuhri Zaini dalam sambutannya.
Beliau menjelaskan bahwa sejak awal berdiri, Pondok Pesantren Nurul Jadid telah menerapkan sistem pendidikan yang memadukan pelajaran agama dan pelajaran umum, bahkan sebelum kurikulum nasional masuk ke pesantren.
“Sejak awal Pesantren Nurul Jadid sudah menerapkan pelajaran umum, sebelum kurikulum nasional masuk kepesantren,” terangnya.
Menurut beliau, kebijakan penyetaraan ijazah madrasah dan sekolah umum membawa konsekuensi terhadap kemampuan para santri dalam penguasaan ilmu agama, khususnya kitab kuning.
“Sekarang ada tuntutan menghargai ijazah. Sehingga santri baru yang punya ijazah SMP bisa langsung naik ke jenjang selanjutnya. Sehingga menyebabkan menurunnya kemampuan santri untuk menguasai ilmu agama apalagi kitab kuning,” lanjutnya.
Oleh karena itu, pihak pesantren tidak memberikan tekanan berlebihan kepada para santri dalam penguasaan kitab kuning. Namun, beliau tetap menekankan pentingnya penguasaan dasar-dasar keagamaan.
“Kami sebagai pengelola pesantren tidak memberatkan atau menekan para santri untuk pinter baca kitab. Sehingga ketika ada santri baru saya sering bertanya ‘sampean ini mondok di sini apa mau pinter baca kitab atau tidak? Kalau jawabnya, iya, ingin pinter baca kitab, ‘jangan mondok di sini’ saya katakan begitu,” terangnya.
Meski demikian, beliau tetap mendorong para santri untuk menguasai kewajiban dasar dalam beragama. Setidaknya furudhul ainiyah sekalipun tidak bisa membaca kitab.
KH. Moh. Zuhri Zaini berharap pelaksanaan Bahtsul Masa’il dapat menjadi pemantik semangat pesantren dan santri dalam mempelajari kitab turats atau kitab klasik yang sempat vakum pada tahun sebelumnya.
“Saya ingin para santri memiliki keiinginan mempelajari bahkan menguasai kitab kuning apalagi bisa membahasnya,” pungkasnya.