Berawal dari kawasan hutan jati di Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, hijrah KH Zaini Mun’im pada 1948 menjadi fondasi lahirnya Pondok Pesantren Nurul Jadid, yang kemudian tumbuh menjadi salah satu pesantren besar di Probolinggo dan Jawa Timur.
____________________________________
Probolinggo (Surau.ID) – Pondok Pesantren Nurul Jadid berdiri di Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Kawasan yang kini menjadi pusat pendidikan Islam itu, pada pertengahan abad ke-20 masih berupa hutan jati dan semak belukar, jauh dari gambaran sebuah lingkungan pesantren.
Wilayah Karanganyar dahulu dikenal dengan nama Desa Tanjung, merujuk pada keberadaan pohon tanjung (Mimusops elengi) yang tumbuh besar di kawasan tersebut. Perubahan besar di desa ini bermula pada 10 Muharram 1948, ketika KH Zaini Mun’im tiba dan menetap di wilayah itu.
Kedatangan KH Zaini Mun’im merupakan bagian dari hijrah beliau dari Madura, setelah memperoleh restu sekaligus perintah dari gurunya, KH Syamsul Arifin, ayah KH As’ad Syamsul Arifin, Sukorejo, Situbondo.
“Saat beliau datang, kawasan ini masih hutan jati dan dikenal sebagai daerah yang cukup angker,” kata Kepala Pesantren Nurul Jadid, KH Abdul Hamid Wahid, dalam wawancara pada 2024, dilansir Radar Bromo.
Menurut Abdul Hamid, KH Zaini Mun’im pada awalnya tidak bermaksud mendirikan pesantren. Tujuan kedatangannya lebih sebagai upaya mengasingkan diri dari situasi sosial-politik kolonial yang keras, sekaligus memperdalam laku spiritual.

Situasi berubah ketika dua pemuda, Syafiuddin dari Gondosuli dan Saifuddin dari Sidodadi, datang untuk belajar ilmu agama. Kehadiran mereka dipandang KH Zaini Mun’im sebagai amanat yang tidak dapat diabaikan.
Dalam kurun sekitar satu tahun, KH Zaini Mun’im mulai membuka hutan, mendirikan rumah sederhana dan surau kecil, serta mengubah kawasan tersebut menjadi lahan tegalan. Dari titik inilah, aktivitas pendidikan keagamaan mulai tumbuh.
Jumlah santri perlahan bertambah. Mereka datang dari berbagai daerah, seperti Madura, Malang, Situbondo, Bondowoso, dan Probolinggo. Di antara santri awal tercatat nama-nama seperti Muyan, Abdul Mu’thi, Arifin, Makyar, Baidlawi, dan Jufri. Jumlahnya kemudian berkembang hingga puluhan orang.
Para santri tinggal di gubuk-gubuk bambu yang dibangun di sekitar kediaman kiai. Seiring bertambahnya jumlah santri, kawasan hutan di sekitar kembali dibuka untuk mendirikan bangunan pesantren yang lebih permanen.
Perubahan juga terjadi di tengah masyarakat Karanganyar. Kesadaran beragama mulai tumbuh, ditandai dengan berdirinya sejumlah musala. Di sisi lain, KH Zaini Mun’im memperkenalkan tanaman tembakau sebagai upaya penguatan ekonomi warga.
“Tanah di Karanganyar sebenarnya subur. Setelah tembakau diperkenalkan, hasilnya mampu meningkatkan perekonomian masyarakat,” ujar Ra Hamid.

Nama Nurul Jadid, yang berarti Cahaya Baru, diberikan oleh KH Baqir, putra KH Abdul Majid, salah satu guru KH Zaini Mun’im. Nama tersebut mencerminkan harapan lahirnya tatanan sosial dan keagamaan baru di wilayah yang sebelumnya tertinggal.
“Perkembangannya menunjukkan bahwa pesantren ini tidak hanya tumbuh secara fisik, tetapi juga berperan dalam pembentukan karakter masyarakat,” kata Sekretaris Pesantren Nurul Jadid, H Tahiruddin, 2024 lalu.
Ia menjelaskan, pendirian Nurul Jadid sejak awal tidak semata berorientasi pada transmisi ilmu keagamaan. Pesantren ini juga diarahkan untuk menjaga budaya, menanamkan etika sosial, dan membangun moralitas masyarakat.
Pada masa awal, kondisi sosial Karanganyar masih diwarnai praktik animisme, perjudian, hingga prostitusi. Penguatan ekonomi melalui pertanian menjadi pintu masuk sebelum nilai-nilai agama ditanamkan secara lebih luas.

Pengembangan kelembagaan pendidikan di Nurul Jadid dimulai pada 1950 dengan berdirinya Madrasah Ibtidaiyah Agama, Taman Kanak-kanak Nurul Mun’im, serta Flour Kelas. Lembaga-lembaga ini kemudian berkembang menjadi madrasah tsanawiyah dan aliyah, sebagian di antaranya memperoleh status negeri dan disamakan dengan sekolah umum.
Upaya pengembangan juga merambah pendidikan tinggi. Pada 20 Juli 1968, melalui musyawarah PWNU Jawa Timur di Lumajang, dibentuk Akademi Dakwah dan Pendidikan Nahdlatul Ulama (ADIPNU) yang ditempatkan di Nurul Jadid.
“ADIPNU menjadi embrio lahirnya Universitas Nurul Jadid,” kata Kasubbag Humas dan Infokom Ponpes Nurul Jadid, Ponirin Mika pada 2024 lalu.
ADIPNU kemudian berkembang menjadi Perguruan Tinggi Ilmu Dakwah, disusul pendirian sejumlah sekolah tinggi lain, hingga akhirnya melebur menjadi Institut Agama Islam Nurul Jadid. Pada 2017, tiga institusi—IAINJ, STTNJ, dan STIKES Nurul Jadid—resmi bergabung menjadi Universitas Nurul Jadid (UNUJA) berdasarkan SK Kemenristekdikti Nomor 589/KPT/I/2017.
Saat ini, UNUJA menaungi sejumlah fakultas, mulai dari agama, hukum, teknik, hingga kesehatan.
Pesantren Nurul Jadid kini diasuh oleh KH Moh Zuhri Zaini, putra kelima KH Zaini Mun’im dan Nyai Nafi’ah. Jumlah santri dan mahasiswa di lingkungan pesantren tersebut mencapai hampir 10 ribu orang.
____________________________________
Artikel ini disusun berdasarkan hasil wawancara Radar Bromo yang dilakukan pada 2024 serta penelusuran sejumlah sumber tepercaya.