Probolinggo (Surau.ID) — Memasuki usia ke-77 tahun, Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, menegaskan komitmennya untuk terus bertransformasi sebagai lembaga pendidikan Islam yang profesional tanpa tercerabut dari akar tradisi. Penegasan tersebut disampaikan Kepala Pesantren Nurul Jadid, KH. Abdul Hamid Wahid, dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-77 yang dirangkaikan dengan Haul Masyayikh, Ahad (18/01/26).
Dalam sambutannya, Kiai Hamid menyebut usia 77 tahun sebagai momentum strategis untuk meneguhkan arah perubahan pesantren. Tema “Dari Tradisi ke Transformasi”, menurutnya, bukan sekadar slogan, melainkan ikhtiar sadar untuk mengintegrasikan nilai-nilai klasik pesantren dengan tuntutan tata kelola modern.
Ia menegaskan bahwa proses transformasi tersebut tetap berpijak pada kaidah yang telah lama hidup dalam tradisi pesantren, yakni al-muhafazhatu ‘alal qadimi al-shalih, wal akhdzu bil jadidi al-aslah.
“Nurul Jadid tidak hanya menjaga warisan intelektual masa lalu, tetapi juga bertransformasi mengambil tradisi baru yang membawa maslahat bagi agama, bangsa, dan masyarakat,” ujarnya.
Komitmen tersebut, lanjut Kiai Hamid, telah dituangkan secara sistematis dalam Rencana Induk Pesantren (RIP) Nurul Jadid 2021–2040.
Dokumen ini menjadi peta jalan transformasi pesantren yang bertumpu pada empat pilar strategis manajemen, yakni peningkatan kualitas pendidikan, penguatan sumber daya manusia yang kompeten dan profesional, kemandirian pendanaan organisasi, serta penyediaan sarana dan prasarana yang representatif.
Salah satu langkah konkret dari transformasi tersebut adalah penerapan standar manajemen internasional. Saat ini, Pondok Pesantren Nurul Jadid telah mengantongi sertifikasi ISO 9001:2015 tentang Sistem Manajemen Mutu dan ISO 21001:2018 tentang Manajemen Organisasi Pendidikan.
Penerapan standar ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa seluruh layanan dakwah dan pendidikan berjalan secara transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kebutuhan santri sebagai subjek utama pembelajaran.
“Kami ingin menunjukkan bahwa keunggulan pesantren harus holistik. Ada keseimbangan antara kekuatan moralitas dan intelektualitas dengan tata kelola profesional yang modern,” tambahnya.
Di akhir sambutannya, Kiai Hamid menginstruksikan seluruh pengelola dan keluarga besar pesantren untuk menginternalisasi nilai-nilai Panca Kesadaran dan Trilogi Santri ke dalam sistem kerja sehari-hari.
Ia menekankan bahwa kedisiplinan dalam menjalankan Standard Operating Procedure (SOP) bukan sekadar tuntutan administratif, melainkan bentuk pengabdian profesional di era modern.
Dengan optimisme tersebut, Kiai Hamid meyakini Pondok Pesantren Nurul Jadid mampu terus melangkah sebagai mercusuar peradaban—mencetak generasi unggul yang berakar kuat pada nilai keislaman, sekaligus siap berkontribusi bagi kesejahteraan umat, baik di dunia maupun di akhirat.