PROBOLINGGO (Surau.ID) – Majelis Al-Muhibbin Dusun Tanjung Lor, Desa Karanganyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, menggelar istighasah dan taklim bertema Upaya Istiqamah dalam Ibadah pada Kamis malam, 19 Februari 2026, seusai salat tarawih. Kegiatan tersebut menghadirkan KH Madarik Wahid yang akrab disapa Ra Madarik sebagai penceramah.
Dalam tausiyahnya, putra almarhum KH Abdul Wahid, pengasuh ketiga Pondok Pesantren Nurul Jadid itu menegaskan bahwa istiqamah memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Ia menyebut nilainya bahkan lebih tinggi dari seribu karomah.
“Istiqamah berarti lurus, berada di jalan yang benar tanpa menyimpang. Ia juga bermakna mudawamah, yakni menjaga amal agar terus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan,” ujar Ra Madarik di hadapan jamaah.
Menurutnya, menjaga konsistensi ibadah menjadi tantangan tersendiri, terutama di tengah berbagai godaan duniawi. Karena itu, istiqamah menjadi tanda ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT.
Ra Madarik mengutip hadis Nabi Muhammad SAW dalam Arbain Nawawi ke-21, Qul aamantu billah tsumma istaqim (Katakanlah aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah) yang diriwayatkan Imam Muslim. Hadis tersebut, kata dia, menunjukkan bahwa inti ajaran Islam terletak pada komitmen menjaga keimanan dan amal secara berkelanjutan.
Ia juga mencontohkan keteladanan KH Abdul Hadi, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Langitan, yang dikenal istiqamah dalam ibadah malam. Konsistensi beliau, lanjutnya, bahkan menjadi penanda waktu bagi masyarakat sekitar.
Ra Madarik turut mengisahkan jawaban KH Abdul Hadi saat ditanya mengenai kecukupan rezekinya. Sang kiai kala itu mengutip hadis Nabi, “Harrik yadaka yudman lakar rizq” (Gerakkan tanganmu, maka rezekimu akan dijamin).
Menurut Ra Madarik, makna hadis tersebut tidak hanya sebatas bekerja secara fisik, tetapi juga menggerakkan anggota tubuh dalam ibadah, seperti berdoa, berdzikir, bersedekah, serta menunaikan salat.
“Siapa yang istiqamah menggerakkan dirinya dalam ibadah, Allah akan menjamin kecukupan rezekinya,” tuturnya.
Dalam sesi tanya jawab, ia juga menjelaskan perbedaan antara istiqamah dan disiplin. Disiplin, kata dia, umumnya lahir dari aturan atau faktor eksternal, sedangkan istiqamah bersumber dari kesadaran diri dan dilakukan semata-mata karena Allah.
“Orang yang istiqamah pasti disiplin. Tetapi orang yang disiplin belum tentu istiqamah,” pungkasnya.