Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
04 Februari 2026 | 18:51 WIB
Nasional

Virus Nipah: Jarang Muncul, Tapi Mengancam Nyawa

Nipah
Ilustrasi virus nipah (AI)

 

JAKARTA (SURAU.ID) – Meski belum sering terdengar, virus Nipah belakangan kembali menarik perhatian para peneliti dunia. Patogen yang berasal dari hewan ini dinilai memiliki potensi bahaya serius apabila tidak diantisipasi sejak awal. Para ahli menegaskan, rendahnya jumlah kasus bukan berarti ancamannya kecil.

Sejumlah kajian terbaru menunjukkan bahwa penyebaran virus Nipah memang tidak meluas secara global. Namun, setiap kali virus ini menginfeksi manusia, dampaknya kerap berat. Nipah diketahui menyerang sistem saraf pusat dan memicu ensefalitis atau peradangan otak, kondisi yang dapat berujung pada kematian atau gangguan kesehatan jangka panjang. Bahkan, sebagian penyintas dilaporkan tidak pernah benar-benar pulih.

Laporan ilmiah yang dikutip dari laman Earth pada awal Februari 2026 menekankan bahwa peluang keselamatan pasien sangat bergantung pada kecepatan penanganan medis. Hingga kini, dunia medis masih menghadapi keterbatasan karena belum tersedia vaksin maupun obat antivirus khusus untuk virus Nipah.

Dari data yang ada, sekitar 20 persen penderita mengalami komplikasi jangka panjang, mulai dari kejang berulang, kelelahan kronis, hingga perubahan perilaku yang signifikan. Dalam kasus tertentu, peradangan otak dapat muncul kembali berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah pasien dinyatakan sembuh, dan kondisi ini berpotensi berakibat fatal.

Hingga saat ini, kejadian wabah Nipah tercatat terutama di kawasan Asia. Kendati demikian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tetap memasukkan virus ini sebagai ancaman serius. Kemampuannya menular antarmanusia serta melalui hewan membuat Nipah berpeluang menyebar lebih luas apabila situasi lingkungan dan perilaku manusia mendukung.

Jalur Penularan Virus Nipah

Peneliti Ahli Utama Virologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Niluh Putu Indi Dharmayanti, mengungkapkan bahwa infeksi virus Nipah pada manusia memiliki tingkat kematian yang tinggi. Ia menegaskan, meskipun Indonesia belum melaporkan kasus pada manusia, sejumlah bukti ilmiah menunjukkan bahwa virus ini telah beredar di alam.

Virus Nipah pertama kali terdeteksi dalam wabah di Malaysia pada 1998. Sejak saat itu, kasus serupa muncul berulang di beberapa negara Asia Selatan dan Asia Tenggara. Menurut Indi, dampak virus ini tidak hanya menyentuh aspek kesehatan manusia, tetapi juga kesehatan hewan serta stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Secara biologis, Nipah termasuk dalam kelompok Henipavirus. Reservoir alaminya adalah kelelawar pemakan buah dari famili Pteropodidae, terutama genus Pteropus. Kelelawar tersebut dapat membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit, namun tetap mampu menularkannya ke hewan lain maupun manusia.

Indi menjelaskan, penularan ke manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, seperti babi, konsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi, serta melalui penularan antarmanusia. Di beberapa wilayah, wabah Nipah juga dikaitkan dengan konsumsi bahan pangan yang tercemar urine atau air liur kelelawar.

Untuk menekan risiko, ia mendorong penguatan sistem surveilans pada satwa liar, hewan ternak, dan manusia, disertai peningkatan kapasitas deteksi laboratorium di berbagai daerah. Deteksi dini menjadi kunci utama agar penularan dapat dihentikan sebelum berkembang menjadi wabah yang lebih luas.

Penulis: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id