PROBOLINGGO (SURAU.ID) – Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid (P4NJ) Kecamatan Banyuanyar menggelar kegiatan rutin yang dirangkaikan dengan haul masyayikh untuk mengenang almarhum KH Abdul Wahid Zaini pada Sabtu malam (7/02/2026). Kegiatan berlangsung di kediaman Ali Qodir, Desa Liprak Wetan, dengan dihadiri alumni serta simpatisan pesantren.
Rangkaian acara dimulai sekitar pukul 19.00 WIB melalui pembacaan Surat Yasin, tahlil, dan lantunan Qosidah Tawassul karya KH Zaini Mun’im. Suasana religius menyelimuti pertemuan yang juga menjadi ruang silaturahmi warga pesantren di wilayah Banyuanyar.
Dalam tausiyahnya, Lora Muhammad Hilman Romli dari keluarga besar Pondok Pesantren Nurul Jadid mengajak jamaah memaknai rezeki tidak semata sebagai harta benda.
“Kita sebagai orang pesantren harus sadar bahwa rezeki bukan hanya uang. Contoh sederhana, jika ada orang tak dikenal memberi uang Rp1 miliar tapi besoknya kita mati, tentu kita akan memilih tidak dapat uang itu. Artinya, nyawa dan kesehatan jauh lebih berharga,” ujarnya.
Putra kedua almarhum KH Romzi Al-Amiri Mannan itu juga menyinggung nikmat sederhana seperti kemampuan bangun tidur setiap pagi yang kerap luput disadari. Ia kemudian mengkritik fenomena sosial yang disebutnya sebagai “zaman kebalik”, ketika minat menghadiri majelis ilmu kalah oleh kegiatan bernilai materi.
“Sekarang kalau ada majelis ilmu, yang datang sedikit. Apalagi kalau hujan, tambah sedikit. Tapi kalau ada kumpulan yang ada uangnya, meskipun sakit pasti diusahakan hadir. Alhamdulillah, berkumpulnya kita di majelis ini adalah salah satu rezeki sejati dari Allah,” tegas alumni Pesantren Sidogiri tersebut.
Menjelang Ramadhan, Lora Hilman mengingatkan pentingnya mempersiapkan diri dengan memperbanyak ibadah serta selawat untuk meraih keutamaan malam Lailatul Qadar.
“Tanda malam Lailatul Qadar itu suasananya tenang. Itu adalah malam yang diperebutkan orang-orang beriman untuk mendekat kepada Sang Khalik,” imbuhnya.
Ketua Koordinator Kecamatan P4NJ Banyuanyar, Sifauddin, menyatakan dukungan terhadap keberlanjutan forum tersebut. Ia menilai kegiatan doa bersama dan silaturahmi menjadi sarana menjaga sanad keilmuan sekaligus mempererat barisan alumni pesantren.
“Kami selaku Korcam sangat mendukung konsistensi kegiatan ini. Selain sebagai ajang kirim doa untuk para Masyayikh, khususnya KH Abdul Wahid Zaini, ini adalah wadah bagi alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid di Banyuanyar untuk tetap satu barisan dan satu komando dalam syiar pesantren,” tuturnya.
Acara ditutup dengan musyawarah kepulangan santri serta doa bersama. Para jamaah meninggalkan lokasi dengan pesan mendalam tentang pentingnya mensyukuri rezeki nonmateri dalam kehidupan sehari-hari.