PROBOLINGGO (Surau.ID) – Pemerintah Kabupaten Probolinggo melalui Dinas Sosial (Dinsos) menunjukkan komitmen respons cepat dalam menangani rentetan bencana alam yang melanda sejumlah wilayah pada medio Februari ini. Berkolaborasi dengan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD), bantuan logistik mulai didistribusikan kepada warga terdampak kebakaran, banjir, hingga tanah longsor.
Peristiwa bencana tersebut dilaporkan terjadi serentak pada 17 Februari 2026 sore hari. Dampaknya tersebar di beberapa titik strategis, mulai dari Kecamatan Tegalsiwalan, Leces, Paiton, hingga kawasan dataran tinggi di Kecamatan Lumbang.
Melansir dari website probolinggokab.go. id, Kepala Dinsos Kabupaten Probolinggo, Rachmad Hidayanto, menjelaskan bahwa sesaat setelah laporan diterima pada 19 Februari, tim gabungan langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan asesmen dan penyaluran bantuan darurat.
“Prinsip kami dalam Pelayanan Sae Sosial adalah cepat responnya, jelas prosesnya, dan terasa manfaatnya. Begitu data masuk, tim langsung bergerak melakukan koordinasi lintas sektor,” ujar Rachmad.
Beberapa bantuan mendesak yang telah disalurkan meliputi: paket sembako dan lauk pauk siap saji, perlengkapan anak (kids ware) dan pakaian layak pakai, peralatan tidur berupa kasur lipat dan selimut, tenda gulung untuk hunian sementara.
Meskipun dampak kerusakan cukup luas, Rachmad menyebut pihaknya tidak mendirikan dapur umum. Hal ini dikarenakan masyarakat dinilai masih mampu melakukan aktivitas domestik secara mandiri dengan dukungan logistik yang diberikan pemerintah.
Kronologi dan Estimasi Kerugian
Berdasarkan hasil investigasi lapangan, ragam bencana ini dipicu oleh faktor cuaca ekstrem dan insiden rumah tangga. Di Desa Banjarsawah, kebakaran terjadi akibat penggunaan lilin saat pemadaman listrik. Sementara itu, hujan dengan intensitas tinggi memicu banjir di Leces dan tanah longsor yang merusak hunian milik Misto di Desa Sapih, Lumbang.
Beberapa warga yang tercatat mengalami kerusakan properti antara lain: Asri (Desa Banjarsawah, Tegalsiwalan), Nurhadi, Ridwan, dan Samsul (Desa Jorongan, Leces), Kandar (Desa Sukodadi, Paiton), Misto (Desa Sapih, Lumbang)
Kerugian material ditaksir mencapai ratusan juta rupiah, dengan estimasi kerusakan fisik bangunan bervariasi antara Rp10 juta hingga Rp500 juta per titik lokasi. Beruntung, tidak ada laporan kerusakan pada fasilitas umum maupun korban jiwa dalam rangkaian peristiwa ini.
Penanganan ini melibatkan sinergi antara Taruna Siaga Bencana (Tagana), BPBD Kabupaten Probolinggo, jajaran Forkopimka, serta perangkat desa setempat.
Rachmad menegaskan bahwa kolaborasi ini merupakan instruksi langsung dari pimpinan daerah guna memastikan kehadiran negara di tengah kesulitan warga. “Sinergi antar-OPD adalah kunci agar bantuan tepat sasaran dan pemulihan pascabencana berjalan lebih efektif,” tutupnya.