Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
21 Februari 2026 | 18:18 WIB
Hiburan

Strategi Tidur Selama Ramadan: Kunci Energi Stabil Saat Berpuasa

Manfaat Tidur di bulan Puasa
Ilustrasi.

 

PROBOLINGGO (Surau.ID) — Ramadan selalu membawa perubahan yang tidak kecil bagi tubuh. Jam makan bergeser, waktu bangun menjadi lebih pagi untuk sahur, sementara malam sering terisi oleh ibadah dan aktivitas sosial. Tanpa disadari, perubahan ini membuat banyak orang menjalani hari dengan durasi tidur yang lebih pendek dari biasanya.

Para peneliti melihat bahwa keluhan mudah lelah, sulit fokus, dan perubahan suasana hati selama puasa bukan semata akibat lapar dan haus, tetapi juga berkaitan erat dengan gangguan ritme tidur.

Penelitian dalam Journal of Sleep Research menunjukkan bahwa perubahan pola tidur selama Ramadan dapat menurunkan kewaspadaan dan performa kognitif, terutama pada siang hari ketika tubuh masih beradaptasi dengan jadwal baru.

Dalam konteks ini, tidur tidak lagi sekadar kebutuhan biologis, tetapi menjadi strategi penting agar puasa tetap dijalani dengan energi yang stabil.

Menjaga Konsentrasi dan Memulihkan Energi

Para ahli saraf menjelaskan bahwa tidur berperan dalam memulihkan fungsi otak, menyeimbangkan hormon, serta memperbaiki jaringan tubuh. Ketika durasi tidur malam berkurang, tekanan tidur meningkat dan tubuh lebih cepat mengalami kelelahan.

Merujuk kajian dalam Sleep Medicine Reviews yang menegaskan bahwa kurang tidur dapat menurunkan konsentrasi, memperlambat respons, serta memicu perubahan emosi. Karena itu, menjaga kualitas tidur selama Ramadan menjadi faktor penting agar aktivitas harian tetap produktif dan ibadah tidak terganggu oleh rasa lelah berlebihan.

Artikel berjudul Efek masase dalam turnamen terhadap kelelahan yang ditulis oleh Afandi, N. R, mengungkapkan bahwa, tidur siang menjadi solusi yang banyak direkomendasikan para peneliti. Salah satu studi pada atlet yang berpuasa menemukan bahwa tidur siang sekitar 40 menit setelah aktivitas berat mampu meningkatkan performa fisik sekaligus fungsi kognitif secara signifikan.

Temuan serupa muncul pada penelitian terhadap pemain sepak bola yang menunjukkan peningkatan perhatian dan kecepatan reaksi setelah tidur siang dibandingkan dengan kelompok yang tidak tidur.

National Sleep Foundation juga menyatakan bahwa tidur siang singkat 20–30 menit efektif meningkatkan kewaspadaan, suasana hati, dan produktivitas tanpa menimbulkan rasa pusing setelah bangun. Dalam kondisi puasa, manfaat ini menjadi semakin relevan karena tubuh tidak mendapat asupan energi sepanjang hari.

Meski memberi banyak manfaat, tidur siang tetap memerlukan pengaturan durasi. Sebab, tidur terlalu lama dapat menimbulkan sleep inertia atau rasa kantuk berat setelah bangun.

Para peneliti menyarankan paparan cahaya terang, aktivitas ringan, atau mencuci muka untuk mengurangi efek tersebut sehingga tubuh dapat kembali waspada tanpa kehilangan manfaat tidur.

Dapat Menjaga Kesehatan Mental

Tidur juga berperan penting dalam menjaga kesehatan mental. Kurang tidur diketahui meningkatkan iritabilitas dan menurunkan kontrol emosi, sementara tidur berkualitas membantu stabilitas mood serta ketahanan terhadap stres.

Penelitian yang dirangkum oleh Matthew Walker dalam Why We Sleep menegaskan bahwa tidur yang cukup berkontribusi pada regulasi emosi, penguatan memori, serta kesejahteraan psikologis secara keseluruhan.

Dalam konteks Ramadan, manfaat ini terasa pada meningkatnya ketenangan, fokus ibadah, dan kemampuan menjaga interaksi sosial secara positif.

Menemukan Pola Tidur yang Seimbang

Para ahli sepakat bahwa tidak ada pola tidur tunggal yang ideal selama Ramadan. Namun, prinsip utamanya adalah menjaga kualitas tidur malam, memanfaatkan tidur siang singkat, serta menghindari tidur terlalu sore agar tidak mengganggu istirahat malam.

Dengan pola tersebut, tidur menjadi bagian penting dari manajemen energi selama berpuasa. Ia memberi ruang bagi tubuh untuk memulihkan diri, menjaga kejernihan pikiran, dan menstabilkan emosi sehingga ibadah dapat dijalani dengan lebih optimal.

Ramadan bukan hanya latihan menahan haus dan lapar, tetapi juga latihan memahami kebutuhan tubuh. Dan di antara kebutuhan itu, tidur, yang sering dianggap sepele, ternyata menjadi salah satu kunci agar puasa berlangsung lebih sehat, tenang, dan bermakna.

Penulis: Adi Purnomo Suharno
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id