Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
17 April 2026 | 13:12 WIB
Daerah

Abdur Razak: Antara Romantisme Sejarah dan Ujian Relevansi

IMG
Abdur Razak, Sekretaris PKC PMII Jawa Timur (Foto:Ist)

 

SURABAYA (Surau.ID) – Tepat pada 17 April 1960, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) lahir bukan dari ruang hampa. Ia merupakan buah dari “rahim kegelisahan” kolektif para pendahulu yang menolak diam melihat ketertindasan bangsa, kebodohan umat, dan eksklusivitas mahasiswa yang kala itu kerap dijuluki sebagai penghuni menara gading.

Kini, lebih dari enam dekade berlalu, sebuah pertanyaan fundamental muncul ke permukaan: Masihkah api kegelisahan itu berkobar di dada para kader, atau ia telah padam tertiup angin kenyamanan?

Menagih Janji “Kawah Candradimuka”

Perayaan hari lahir (Harlah) sejatinya bukan sekadar seremoni pengulangan tahun. Ia adalah momentum hisab sebuah evaluasi diri yang jujur untuk melihat sejauh mana organisasi ini masih berpijak pada khittah pendiriannya. Sebagai organisasi yang memegang teguh nilai Aswaja an-Nahdliyah, PMII dituntut untuk membuktikan apakah nilai tersebut masih menjadi napas gerakan atau hanya berakhir sebagai jargon pemanis spanduk tahunan.

Publik, dan terutama rakyat kecil, menunggu bukti nyata dari trilogi legendaris: Dzikir, Fikir, dan Amal Sholeh. Pertanyaannya, apakah nilai-nilai ini benar-benar mewujud dalam tindakan di ruang publik, atau justru tereduksi dan mati di bawah meja-meja kekuasaan?

Melawan Amnesia Sejarah

Seorang kader PMII tidak memiliki kemewahan untuk menjadi amnesia terhadap sejarah. Sejarah mencatat bahwa PMII lahir untuk menjadi “benar”, bukan sekadar menjadi “besar”. Menjadi besar adalah soal angka dan massa, namun menjadi benar adalah soal integritas dalam mengawal keadilan.

Di tengah realitas sosial saat ini ketika suara-suara rakyat seringkali dibungkam, korupsi seolah menemukan legalitasnya, dan penggusuran menjadi pemandangan biasa PMII menghadapi ujian berat. Apakah ia akan tetap menjadi pelopor di garis depan, atau justru nyaman menjadi penonton di kursi tribun?

Menatap Masa Depan

Menjadi benar memang seringkali sepi peminat. Namun, di situlah letak muruah sebuah pergerakan. Menjaga warna “Biru-Kuning” tetap hidup bukan soal mengecat dinding gedung, melainkan soal melukis keberpihakan pada kaum mustad’afin (kaum yang tertindas).

Selamat Hari Lahir Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Semoga Biru-Kuning tidak hanya terlukis di atribut, tetapi abadi dalam tarikan napas perjuangan setiap kadernya.

Tangan Terkepal dan Maju ke Muka!
Salam pergerakan!

Penulis: Badrul Nurul Hisyam
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id