PROBOLINGGO (Surau.ID) – Keceriaan terpancar di wajah para siswa SMK Kesehatan Sunan Kalijaga, Banyuanyar Tengah. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tak hanya mengenyangkan, tetapi juga mulai mengubah kebiasaan finansial pelajar-dari gemar jajan menjadi disiplin menabung.
Fika Irrohmania, siswi kelas 12, merasakan langsung manfaat program tersebut. Baginya, MBG bukan sekadar makan siang gratis, tetapi juga kesempatan untuk lebih bijak mengelola uang saku.
“Senang sekali, uang saku jadi bisa disisihkan untuk ditabung. Apalagi menunya enak,” ujar Fika kepada Surau.ID.
Ia mencontohkan menu yang diterima, seperti dendeng sapi, tahu, capcay, nasi, dan buah jeruk. Menurutnya, variasi menu yang diberikan membuat siswa tidak bosan dan semakin antusias menunggu kedatangan makanan.
“Saking semangatnya, setiap ada kendaraan lewat kami langsung menengok ke luar. Takut itu mobil pengantar MBG,” katanya sambil tertawa.
Meski demikian, ia berkelakar bahwa satu-satunya “keluhan” dari para siswa adalah porsi yang kadang terasa kurang serta waktu tunggu yang membuat mereka tidak sabar.
Menariknya, program ini tetap berjalan meski sekolah libur atau saat bulan Ramadan. Fika mengaku tetap menerima paket MBG dalam bentuk makanan kering.
“Waktu puasa tetap dapat, tapi berupa camilan kering. Enak, bisa dimakan setelah berbuka,” tuturnya.
Ia pun berharap program ini terus berlanjut. Bahkan, ia menyimpan harapan sederhana agar suatu saat menu seperti masakan Padang atau dimsum turut dihadirkan.
Hal serupa dirasakan Imama Uswatun Hasanah, juga siswi kelas 12. Ia menilai MBG menjadi solusi nyata dalam kesehariannya, terutama karena tidak selalu sempat membawa bekal dari rumah.
“Dulu sering boros karena harus beli makan. Sekarang bisa kenyang tanpa jajan, uangnya bisa ditabung,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi komitmen penyelenggara yang tetap mendistribusikan makanan meski jadwal sekolah berubah.
“Kadang pulang lebih awal karena rapat guru, tapi kami tetap menunggu sampai MBG datang. Kami senang sekali dengan program ini,” katanya.
Fenomena yang dirasakan para siswa ini sejalan dengan tingginya perhatian publik terhadap program MBG secara nasional. Survei Poltracking Indonesia pada 2-8 Maret 2026 menunjukkan tingkat awareness masyarakat terhadap program ini mencapai 88 persen, dengan tingkat kepuasan sebesar 55 persen.
Pengamat kebijakan publik Universitas Indonesia, Eko Prasojo, menilai langkah pemerintah untuk memfokuskan program MBG kepada kelompok rentan merupakan kebijakan yang tepat.
Menurutnya, pendekatan yang lebih terarah akan mencegah pemborosan anggaran sekaligus memastikan program tepat sasaran, terutama dalam upaya menekan angka stunting.
“Program ini harus berbasis data yang akurat hingga tingkat desa agar benar-benar menyasar kelompok yang membutuhkan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menyebut MBG dirancang sebagai intervensi strategis yang menyasar dua fase penting, yakni 1.000 hari pertama kehidupan dan usia sekolah.
Ia menegaskan, program ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam jangka panjang, baik dari sisi kesehatan maupun kecerdasan.
Di tingkat sekolah, dampaknya sudah mulai terasa. MBG bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan gizi siswa, tetapi juga meringankan beban ekonomi keluarga serta membentuk kebiasaan baru yang lebih positif.
Program ini perlahan membuktikan bahwa intervensi sederhana seperti penyediaan makan siang dapat memberikan efek berlapis-mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga pembentukan karakter finansial generasi muda.