PROBOLINGGO (Surau.ID) – Peringatan haul ke-36 wafatnya KH. Hasan Saifouridzall digelar malam ini, Ahad (17/5/2026) atau bertepatan dengan 1 Dzulhijjah 1447 H. Acara religi untuk mengenang wafatnya pengasuh ketiga Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong tersebut dipusatkan di Masjid Jamik Pesantren Genggong, Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, mulai pukul 18.30 WIB.
Kiai Hasan Saifouridzall, yang lahir dengan nama kecil Ahsan pada 28 Oktober 1928, merupakan putra dari pasangan KH Mohammad Hasan dan Nyai Hj Siti Aminah. Beliau resmi memimpin Pesantren Genggong sejak tahun 1952 setelah menerima tongkat kekhalifahan langsung dari sang ayah.
Di bawah kepemimpinannya hingga akhir hayat, pesantren yang berdiri sejak awal abad ke-19 ini mengalami transformasi besar menjadi institusi pendidikan yang modern dan terbuka.
Semangat patriotisme Kiai Hasan tumbuh selaras dengan hari kelahirannya yang bertepatan dengan momen Sumpah Pemuda. Pada masa Agresi Militer Belanda II tahun 1948, dalam usia yang masih sangat muda yaitu 20 tahun, beliau sudah memimpin perang gerilya melawan penjajah di wilayah Tulangan, Sidoarjo, bersama Laskar Hizbullah.
Sebelum terjun ke medan perang Sidoarjo, Kiai Hasan sempat melakukan aksi nekat dengan menggranat toko milik antek Belanda.
Aksi tersebut sempat mendapat teguran dari sang ayah, KH Mohammad Hasan, karena mengkhawatirkan keselamatan masyarakat sekitar. Namun, insiden itulah yang kemudian menjadi pintu restu sang ayah bagi Kiai Hasan untuk berjuang di garis terdepan bersama pasukan Hizbullah.
Selain dikenal sebagai ulama yang kharismatik, Kiai Hasan Saifouridzall merupakan sosok multitalenta yang aktif di berbagai bidang kehidupan.
Pertama, organisasi dan politik: beliau mendedikasikan tenaga dan hartanya untuk Nahdlatul Ulama (NU). Tercatat pernah menjabat sebagai Ketua PCNU Kabupaten Probolinggo dan Pengurus PWNU Jawa Timur. Salah satu bukti peninggalannya adalah monumen NU di utara jalan raya Pondok Hafsawati. Di kancah politik nasional, beliau pernah mengemban amanah sebagai anggota MPR RI periode 1987-1992.
Kedua, pendidikan dan akademisi: kiai Hasan adalah pelopor pendidikan formal di Pesantren Genggong, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Pendidikan formalnya sendiri ditempa di sejumlah pesantren besar, seperti Ponpes Tebuireng di bawah bimbingan KH Hasyim Asy’ari, Ponpes Peterongan di bawah asuhan Kiai Romli, dan Ponpes Lirboyo di bawah asuhan Kiai Mahrus Ali.
Ketiga, seni dan budaya: jiwa seni yang kuat membuat Kiai Hasan mampu menggubah syair, menciptakan lagu, hingga mengaransemen musik. Karya-karyanya seperti Pesan Ayah, Mars Pesantren, dan Do’a Syahdu direkam dalam album musik pesantren pada tahun 1990-an. Beliau juga mendobrak kekakuan pesantren dengan membentuk grup drum band santri, langkah inovatif yang kemudian banyak ditiru oleh pesantren-pesantren lain.
Kiai Hasan dikenal sebagai orator ulung yang dijuluki “Singa Podium” karena ceramahnya yang komunikatif, segar, dan menyentuh psikologi massa.
Di tengah masyarakat, beliau konsisten memimpin pengajian kitab kuning di Masjid Jamik Al-Barokah serta mengasuh Majlis Taklim al-Ahadi setiap hari Ahad.
Keluasan wawasan dan sikap inklusif Kiai Hasan membuat Pesantren Genggong kerap dikunjungi oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari pejabat sipil, militer, hingga peneliti dan tamu mancanegara.
Hubungan baik ini bahkan membuat banyak warga negara asing, seperti dari Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, memercayakan pendidikan putra-putri mereka di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong.