PAITON (Surau.ID) – Sekolah Tinggi Agama Islam Nurul Qadim (STAINQ) menggelar Seminar Nasional bertema pengembangan green economy di lingkungan kampus Islam pada Kamis (28/05/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula Mini STAINQ itu diikuti mahasiswa, dosen, dan peserta dari kalangan akademisi untuk membahas strategi perguruan tinggi keagamaan Islam dalam mendukung pembangunan ekonomi berkelanjutan.
Seminar dimulai pukul 11.00 WIB dengan menghadirkan Kasubdit Pengembangan Akademik Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (DIKTIS), Dr. A. Rafiq Zainul Mun’im, S.Th.I., M.Fil.I., sebagai narasumber utama. Ia menyoroti pentingnya perubahan pola pikir akademik agar isu keberlanjutan tidak hanya dipahami sebagai persoalan lingkungan semata.
Menurut Rafiq, konsep green economy juga berkaitan dengan pembangunan sumber daya manusia yang memiliki kesadaran ekologis. Perguruan tinggi, terutama kampus Islam, dinilai memiliki posisi penting dalam menanamkan nilai keberlanjutan melalui pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat.
“Green economy harus mulai dibangun dari lingkungan akademik. Kampus Islam memiliki nilai-nilai spiritual yang sangat relevan dengan konsep menjaga keseimbangan alam dan keberlanjutan kehidupan,” ungkap Dr. A. Rafiq Zainul Mun’im dalam penyampaiannya.
Ketua STAINQ Nurul Qadim, Syaiful Anam, mengatakan seminar nasional tersebut menjadi bagian dari upaya kampus memperluas perspektif mahasiswa terhadap isu lingkungan dan ekonomi global. Ia menilai perguruan tinggi Islam perlu mengambil peran lebih besar dalam menghadapi tantangan pembangunan masa depan.
Menurut dia, integrasi nilai keislaman dengan prinsip pembangunan berkelanjutan harus mulai diperkuat dalam budaya akademik kampus. Langkah itu dinilai penting agar lulusan perguruan tinggi tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dan lingkungan.
“Perguruan tinggi Islam tidak boleh hanya menjadi tempat transfer ilmu, tetapi juga harus hadir sebagai pusat perubahan sosial dan lingkungan. Melalui seminar ini, kami ingin menanamkan kesadaran bahwa menjaga keberlanjutan adalah bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan,” tutur Syaiful Anam.
Peserta seminar juga terlibat aktif dalam sesi diskusi dan tanya jawab bersama narasumber. Berbagai gagasan mengenai strategi pengembangan akademik berbasis ekonomi hijau dibahas selama kegiatan berlangsung.
Salah satu peserta, Habibur Rosyidin, menilai tema seminar relevan dengan kondisi yang dihadapi generasi muda saat ini. Ia mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai kontribusi kampus Islam dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
“Seminar ini membuka pemahaman kami bahwa kampus Islam juga memiliki tanggung jawab besar dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Materinya sangat menarik dan dekat dengan tantangan yang dihadapi generasi muda sekarang,” ujarnya.