PROBOLINGGO (Surau.ID) – Humas dan Infokom Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton menggandeng Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Probolinggo Raya untuk memperkuat kapasitas kehumasan melalui kegiatan Sekolah Kehumasan yang digelar di Aula Mini Pesantren, Selasa (02/06/2026). Kegiatan ini diikuti unsur humas satuan kerja, pewarta putra-putri, serta perwakilan humas sekolah di lingkungan pesantren.
Program tersebut dirancang sebagai sarana peningkatan kompetensi sekaligus pembaruan wawasan komunikasi publik di tengah perkembangan teknologi digital yang terus bergerak cepat. Peserta mendapatkan pembekalan mengenai strategi Digital Public Relations (PR) dan pengelolaan media sosial institusi.
Kasubbag Humas dan Infokom Pesantren Nurul Jadid, Ponirin Mika, mengatakan media sosial perlu dimanfaatkan secara optimal sebagai instrumen dakwah yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Menurut dia, kehadiran pesantren di ruang digital harus mampu menghadirkan informasi yang edukatif sekaligus menjadi rujukan yang terpercaya.
“Kita sebagai humas dan infokom pesantren harus menjadikan media sosial sebagai media dakwah yang ramah, sejuk, dan mencerahkan. Pesantren harus aktif memproduksi konten yang informatif, bermoral, mampu membentengi umat dari hoaks, serta menjadi pilar edukasi yang dipercaya,” ujar Ponirin.
Ketua PWI Probolinggo Raya periode 2025–2028, Babul Arifandhie, yang menjadi narasumber utama menekankan bahwa pengelolaan media sosial saat ini tidak hanya berkaitan dengan aktivitas publikasi. Lebih dari itu, media digital menjadi instrumen penting dalam membangun dan menjaga kepercayaan publik terhadap lembaga.
Dalam pemaparannya, Babul menjelaskan empat aspek yang perlu diperkuat oleh praktisi humas, yakni optimalisasi media sosial, pengelolaan media online, pemasaran konten, dan pemanfaatan Search Engine Optimization (SEO). Keempat elemen tersebut dinilai saling berkaitan dalam memperluas jangkauan komunikasi lembaga.
Ia juga mengulas sejumlah kecenderungan konten yang saat ini banyak diminati audiens, mulai dari video pendek dengan pembuka yang menarik, konten autentik yang menampilkan aktivitas di balik layar, hingga strategi Social SEO. Untuk menunjang efektivitas pesan, humas juga didorong memahami teknik copywriting menggunakan formula AIDA maupun PAS.
Pada sesi akhir, perhatian peserta diarahkan pada upaya mitigasi krisis digital yang berpotensi muncul di lingkungan pendidikan. Babul mengingatkan pentingnya pemantauan percakapan publik secara berkala untuk mengantisipasi isu seperti perundungan, pungutan liar, maupun keluhan layanan.
“Tim humas sekolah wajib melakukan pencarian manual secara terjadwal setiap pagi dan sore menggunakan kata kunci spesifik di platform X, TikTok, dan Instagram. Pantau ketat ruang komentar dan tagging. Jangan biarkan ada komentar negatif menggantung tanpa respons selama lebih dari 2 jam di jam kerja,” tegas Babul.
Menurutnya, daya tarik konten kreatif memang dapat membantu menarik perhatian masyarakat. Namun, respons yang cepat disertai empati menjadi faktor utama dalam menjaga kepercayaan orang tua, siswa, dan masyarakat dalam jangka panjang.