MALANG (Surau.ID) – Zulfikar, Kepala Bidang Penais Kemenag Aceh, meraih gelar doktor dengan predikat Cumlaude setelah mempertahankan disertasinya yang meneliti keterkaitan erat antara kualitas hafalan Al-Qur’an dengan perilaku sosial santri di lingkungan pesantren tahfidz.
Penelitian yang dipertahankan dalam sidang promosi di Universitas Merdeka (Unmer) Malang, Kamis (18/6/2026), ini membedah realitas sosial di Pondok Pesantren Ma’had Daarut Tahfizh Al-Ikhlas, Banda Aceh, guna memahami bagaimana proses menghafal membentuk karakter santri.
Riset ini menegaskan bahwa pendidikan tahfidz bukan sekadar target hafalan, melainkan sistem yang berkontribusi signifikan dalam pembentukan perilaku sosial yang positif. Santri yang memiliki kualitas hafalan baik cenderung menunjukkan kedisiplinan dan integritas sosial yang lebih kuat di lingkungan pesantren.
Kedisiplinan sebagai Fondasi Karakter
Kualitas hafalan santri berbanding lurus dengan nilai-nilai disiplin, rasa percaya diri, serta kemampuan bekerja sama. Budaya saling membantu dan komitmen kuat antara pihak pesantren, santri, dan orang tua menjadi motor penggerak utama yang menciptakan lingkungan sosial yang suportif bagi santri.
Selain itu, tradisi menghormati guru, ketekunan dalam kegiatan muroja’ah, serta pembinaan intensif dari para ustadz/ustadzah terbukti menjadi faktor krusial yang mengintegrasikan kemampuan kognitif menghafal dengan pembentukan karakter sosial santri yang harmonis dalam pergaulan sehari-hari.
Motivasi Orang Tua dan Lingkungan Sosial
Temuan riset juga menyoroti bahwa motivasi orang tua merupakan dorongan dominan bagi santri untuk mendalami Al-Qur’an. Kondisi ekonomi keluarga dan pengalaman historis masyarakat pascatsunami di Aceh turut membentuk pola pikir masyarakat untuk memprioritaskan pendidikan agama sebagai fondasi utama masa depan anak.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas hafalan Al-Qur’an memiliki keterkaitan yang kuat dengan perilaku sosial santri,” ujar Zulfikar dalam paparannya.
Disertasi ini memperkaya khazanah keilmuan mengenai pendidikan karakter berbasis pesantren. Diharapkan, hasil riset ini menjadi rujukan bagi pengelola pesantren tahfidz untuk terus mengembangkan kurikulum yang mampu menyeimbangkan pencapaian hafalan dengan penguatan kecerdasan sosial santri, sehingga mereka siap berkontribusi positif bagi masyarakat luas di masa depan.