SURABAYA (Surau.ID) – Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU) memberikan penghargaan kepada sejumlah ilmuwan, akademisi, mahasiswa, serta tokoh masyarakat dalam ajang Anugerah LPTNU Award 2026 yang digelar di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Selasa (10/03/2026) malam.
Penghargaan tersebut diberikan kepada individu dan lembaga yang dinilai berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, serta pengabdian kepada masyarakat di lingkungan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU).
Salah satu penerima penghargaan adalah Dr. Ahmad Fawaid, M.Th.I, dosen Universitas Nurul Jadid Probolinggo. Ia meraih Juara II kategori Dosen dengan Karya Ilmu Agama Berpengaruh bidang Tafsir Al-Qur’an dan Hadis.
Fawaid mengaku tidak menyangka akan menerima penghargaan tersebut. Ia bahkan mengetahui kabar itu dari informasi yang dibagikan dalam grup komunikasi para pimpinan perguruan tinggi.
“Tentu saya merasa terhormat, memperoleh anugerah LPTNU ini. saya kaget, sebab rektor yang kebetulan hadir sebagai Rektor dari Perguruan Tinggi NU, dan menginformasikan kepada saya dan pimpinan lain di group telegram. posisi saya tidak diundang. sehingga ini menjadi kejutan di bulan ramadhan,” ujarnya kepada Surau.ID saat dikonfirmasi via WhatsApp, Rabu (11/3/2026).
Ia menilai Al-Qur’an tetap relevan untuk menjawab berbagai persoalan kehidupan modern.
“Ya. sebab al-Qur’an adalah tempat berpulangnya persoalan-persoalan dan inspirasi dalam kehidupan kita. di sisi lain, kita dituntut untuk mengaktualisasikan pesan al-Qur’an selaras dengan tuntutan zaman saat ini,” katanya.

Fawaid mengungkapkan bahwa karya yang ia tulis tidak terlalu banyak dibanding sebagian akademisi lain. Namun ia berusaha agar setiap tulisan tetap berkaitan dengan persoalan yang dekat dengan realitas masyarakat.
“Saya tidak memiliki banyak tulisan sebenarnya. tidak seperti dosen lain yang setiap 2 bulan sekali menerbitkan hasil risetnya,” ujarnya.
“Tetapi, yang saya tulis mesti berkaitan dengan persoalan yang dekat dengan kita hari ini, sehingga benar-benar relate dengan kondisi kita dan yang dirasakan kita hari ini. misalnya isu-isu Al-Qur’an dan media sosial di Indonesia; Al-Qur’an dan panggung artis, dan sebagainya,” lanjutnya.
Menurut Fawaid, dukungan institusi turut mendorong budaya riset di lingkungan kampus.
“Rektor UNUJA (KH Dr. Najiburrahman, M.Ag) sangat konsisten memberhatikan riset dan pengabdian masyarakat. bahkan, di UNUJA ada kebijakan imperatif yang betul-betul menekan dosen untuk melakukan riset,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pemahaman terhadap Al-Qur’an akan terus berkembang di setiap generasi.
“Al-Qur’an itu seperti mutiara yang memiliki banyak sisi. setiap sisi memancarkan cahaya. sehingga, apa yang kita pahami dari al-Quran hari ini, pasti berbeda dari pemahaman kita atas alquran hari kemarin,” katanya.
Ia menegaskan bahwa riset juga berkaitan dengan karier dan kesejahteraan dosen. “Tentu ada. karena, sebagai dosen, kita dituntut untuk melakukan riset, ini karena berkaitan dengan jenjang karir dosen, dan kesejahteraan dosen,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua LPTNU Prof. Dr. H. Ainun Na’im, Ph.D. mengatakan Anugerah LPTNU 2026 merupakan ajang pertama yang digelar sebagai bentuk apresiasi kepada civitas akademika PTNU di seluruh Indonesia.
“Anugerah LPTNU 2026 ini merupakan yang pertama kali diselenggarakan sebagai bentuk apresiasi kepada PTNU di seluruh Indonesia, khususnya kepada civitas akademika yang telah berprestasi dan mendedikasikan keilmuannya dalam bidang pendidikan tinggi,” ujarnya.
Ia berharap penghargaan tersebut dapat memotivasi perguruan tinggi Nahdlatul Ulama untuk terus meningkatkan kualitas akademik dan kontribusi bagi masyarakat.