Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
06 Oktober 2026 | 18:31 WIB
Nasional

Api Gambut Sulit Dipadamkan, BRIN Kembangkan Formulasi Berbasis Singkong

Kebakaran di Desa Gambut
Warga bersama personel kepolisian melakukan pemadaman di lokasi kebakaran di Desa Gambut Jaya. {Foto: Mongabay Indonesia}

 

JAKARTA (Surau.ID) — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong penguatan teknologi untuk mencegah sekaligus menangani kebakaran lahan gambut yang sulit dikendalikan. Selain memanfaatkan pemantauan satelit untuk mengidentifikasi wilayah berisiko, BRIN mengembangkan formulasi berbasis pati singkong yang ditujukan untuk menekan pembakaran hingga ke lapisan bawah gambut.

Pengembangan teknologi tersebut dibahas dalam Media Lounge Discussion (MELODI) bertema “Sains di Balik Karhutla Gambut dan Teknologi Pencegahannya” di Media Lounge BRIN, Gedung BJ Habibie, Jakarta, Selasa (6/10).

Peneliti Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Julinton Sianturi, mengatakan teknologi pemantauan berbasis satelit memungkinkan kondisi kebakaran dipetakan dalam cakupan wilayah yang luas. Data tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan lokasi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut di lapangan.

“Data satelit digunakan untuk mendeteksi hotspot, anomali termal, kondisi tutupan lahan, dan area terbakar, sehingga wilayah berisiko dapat dipantau secara luas sebelum dilakukan verifikasi di lapangan,” kata Julinton.

Teknologi pemantauan itu menjadi bagian dari upaya BRIN untuk mengantisipasi karakter kebakaran gambut yang berbeda dengan kebakaran vegetasi biasa. Api pada gambut tidak selalu terlihat dari permukaan karena sebagian proses pembakaran dapat berlangsung di dalam lapisan tanah.

Gambut Terbakar dari Dalam

Peneliti Pusat Riset Ekologi, Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, Dony Rachmanadi, menjelaskan bahwa pengendalian kebakaran gambut tidak cukup hanya berfokus pada api. Kondisi air di dalam ekosistem gambut justru menjadi faktor penting yang menentukan tingkat kerentanannya terhadap kebakaran.

“Gambut itu bekerja seperti spons raksasa karena mampu menyimpan air dalam jumlah besar. Yang perlu diperhatikan adalah muka air tanah yang menentukan kesehatan ekosistem gambut,” jelas Dony.

Indonesia memiliki sekitar 24 juta hektare ekosistem gambut yang tersebar terutama di Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Ekosistem tersebut berperan dalam mengatur tata air karena mampu menyimpan air ketika curah hujan tinggi dan melepaskannya secara perlahan ketika kondisi lebih kering.

Persoalan muncul ketika sistem tata air gambut terganggu akibat pengeringan. Penurunan muka air tanah membuat lapisan gambut kehilangan kelembapannya sehingga lebih mudah terbakar. Dalam kondisi tersebut, kebakaran juga dapat menimbulkan persoalan lain berupa penurunan permukaan tanah atau subsiden serta pelepasan karbon.

“Ketika gambut dikeringkan, gambut berubah menjadi sumber risiko. Muka air tanah turun, gambut mengering, kemudian risiko kebakaran meningkat. Pada saat yang sama, terjadi subsiden dan emisi karbon,” terang Dony.

Menurut Dony, terdapat dua pola pembakaran yang dapat terjadi dalam kebakaran gambut, yakni flaming dan smouldering. Flaming merupakan pembakaran yang menghasilkan api di permukaan, sedangkan smouldering berlangsung di dalam material gambut dengan suhu lebih rendah dan durasi yang jauh lebih panjang.

Karakter smouldering inilah yang membuat kebakaran gambut sulit ditangani. Api dapat bergerak di bawah permukaan dan tetap menyisakan panas, bara, maupun asap meskipun kobaran api tidak lagi terlihat.

“Karena itu, kebakaran gambut adalah masalah hidrologi sebelum menjadi masalah api,” tegas Dony.

Pengalaman di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah, pada 2026 memperlihatkan bagaimana kebakaran dapat berkembang dari titik panas berukuran kecil menjadi front api ketika kondisi lingkungan mendukung. Situasi tersebut memperlihatkan pentingnya pemantauan kondisi hidrologi sebelum kebakaran berkembang menjadi lebih luas.

Dony menekankan bahwa mempertahankan kandungan air gambut merupakan salah satu strategi utama dalam mengurangi risiko kebakaran. Upaya tersebut sekaligus menjaga fungsi ekologis gambut dan mencegah pelepasan karbon yang tersimpan di dalamnya.

“Kuncinya adalah menjaga air tetap berada di dalam gambut. Ketika gambut tetap basah, fungsi ekologisnya dapat dipertahankan, risiko kebakaran dapat ditekan, karbon tetap tersimpan, dan masyarakat tetap memiliki ruang untuk mengembangkan sumber penghidupan secara berkelanjutan,” tandasnya.

Di sisi lain, BRIN mengembangkan Singkong-APP sebagai teknologi pendukung pemadaman kebakaran gambut. Formulasi tersebut menggunakan pati singkong, ammonium polyphosphate (APP), alkyl polyglucoside (APG), dan air.

Hasil pengujian awal menunjukkan formulasi tersebut menggunakan sekitar 65 liter untuk penanganan dibandingkan 120 liter air. Setelah 60 menit pengamatan, perlakuan menggunakan Singkong-APP tidak lagi menunjukkan api maupun asap. Sebaliknya, penggunaan air masih menyisakan enam titik api atau asap, sementara bara api juga ditemukan setelah 12 jam.

Menurut Julinton, efektivitas formulasi tersebut tidak semata-mata berasal dari kemampuan mendinginkan material yang terbakar. Singkong-APP juga dirancang untuk membentuk penghalang yang dapat mengurangi perpindahan panas di dalam gambut.

“Singkong-APP dirancang tidak hanya untuk pendinginan. Sistem singkong–APP mendorong pembentukan lapisan char yang berfungsi sebagai barrier termal, sehingga dapat menghambat perpindahan panas dan membantu menekan pembakaran lanjutan,” pungkasnya.

Penulis: Adi Purnomo Suharno
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id