Cropped Red S Simbol.webp
Surau.ID •
29 Desember 2025 | 00:17 WIB
Aksara

Caption Saja Cukup

IMG 20251229 WA0000
Moh Ferdiyansah (Surau.ID)

 

Penulis Moh Ferdiyansah*

KITA hidup di zaman ketika satu kutipan pendek bisa dianggap lebih penting daripada membaca satu buku utuh. Cukup dengan menggeser layar, kita merasa sudah “paham semuanya”. Tidak jarang kita melihat para konten kreator menjelaskan suatu persoalan hanya dalam 30–60 detik, dan kita yang menonton langsung merasa mengerti. Alih-alih mengonfirmasi kebenarannya, kita malah buru-buru membagikannya ke Instastory.

Di sini, saya tidak bermaksud menyalahkan para konten kreator atau menuduh mereka sebagai penyebab pembodohan. Yang ingin saya tekankan adalah cara kita menyikapi informasi tersebut. Potongan-potongan informasi di media sosial sangat memengaruhi cara kita berpikir dan bertindak.

Sering kali, ketika membuka media sosial, kita hanya membaca judul lalu langsung berkomentar. Misalnya muncul berita: “Seorang guru menegur siswanya hingga membuatnya menangis.” Tanpa membaca lebih jauh, komentar yang muncul: “Gurunya kejam.” Padahal, jika teks dibaca secara utuh, mungkin kita tidak akan menghakimi secepat itu.

Sebagaimana dikatakan Neil Postman, seorang teoretikus media dan kritikus budaya Amerika, media hiburan membuat kita terbiasa berpikir dangkal, cepat, dan tanpa konteks. Ia bahkan menyebut bahwa masyarakat modern perlahan “terhibur sampai mati”. Informasi disajikan sebagai hiburan, bukan lagi sebagai proses pencarian kebenaran. Akibatnya, kedalaman berpikir digantikan oleh kecepatan konsumsi.

Ketika Kecepatan Mengalahkan Kedalaman

Di sinilah persoalannya. Media sosial membiasakan kita pada kecepatan. Kita menyukai hal-hal yang sederhana, praktis, dan langsung ke inti. Algoritma, iklan, dan notifikasi seolah memanggil kita untuk terus bertahan: scroll lagi… satu video lagi… satu unggahan lagi. Setiap geseran layar memberi sedikit rasa senang, sedikit dopamin, dan perlahan otak belajar satu hal:
“Yang singkat itu enak. Yang panjang itu melelahkan.”

Karena itu, ketika berhadapan dengan teks yang lebih serius—artikel ilmiah, buku, atau jurnal—kita mudah gelisah. Mata membaca, tetapi pikiran ingin cepat selesai. Kita lebih memilih kesimpulan instan daripada proses memahami. Padahal, hidup tidak pernah sesederhana itu.

Pada akhirnya, kita terjebak dalam ilusi pengetahuan. Kita merasa pintar bukan karena memahami, melainkan karena akrab dengan banyak istilah: toxic, healing, overthinking, dan sebagainya. Namun sering kali kita tidak benar-benar mengerti konteks dan maknanya.

Melalui alegori gua, Plato mengingatkan bahwa manusia sering puas pada bayang-bayang kenyataan. Dalam konteks hari ini, potongan informasi di media sosial kerap dianggap cukup, padahal itu hanya “bayangan” dari pengetahuan yang utuh.

Karena itu, masalahnya bukan semata pada media sosial atau para konten kreator, melainkan pada cara manusia memakainya, serta budaya yang terbentuk di sekitarnya. Marshall McLuhan mengatakan bahwa media tidak hanya membawa pesan, tetapi juga membentuk cara kita berpikir. Artinya, persoalan utamanya mungkin ada pada diri kita sendiri, yang membiarkan diri dibentuk olehnya tanpa sadar.

Di titik ini, aku teringat pada para pemikir, baik dari Barat, Islam, maupun Indonesia.

Al-Ghazali mengingatkan bahwa tergesa-gesa adalah bagian dari kegelapan hati; ilmu membutuhkan jeda, ketenangan, dan perenungan. Ibn Khaldun menulis bahwa pengetahuan tumbuh perlahan, setahap demi setahap; siapa yang ingin cepat justru kehilangan pemahaman.

Di tanah air, Ki Hadjar Dewantara menolak pendidikan yang hanya mengejar hafalan dan kecepatan. Baginya, belajar adalah proses menumbuhkan manusia, bukan sekadar menumpuk informasi. Nurcholish Madjid menambahkan bahwa kebebasan berpikir harus berjalan bersama tanggung jawab moral, agar kita tidak terseret opini sesaat.

Membaca mereka, aku merasa persoalan zaman ini mungkin bukan sekadar media sosial atau teknologi, melainkan diri kita sendiri: terlalu terbiasa dengan yang ringkas, terlalu cepat menyimpulkan, dan terlalu mudah percaya pada potongan realitas.

Karena itu, barangkali tugas kita sederhana: memperlambat diri dan memberi waktu bagi pikiran untuk merenung. Tidak puas hanya dengan ringkasan, tetapi berani membuka teks yang lebih dalam. Sebab, seperti diingatkan para pendahulu kita, ilmu tidak tumbuh dari kecepatan, melainkan dari kesabaran untuk memahami—perlahan, tetapi sungguh-sungguh.

____________________________

*) Mahasiswa Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo

Penulis: Moh Ferdiyansah
Editor: Redaksi Surau.ID
TAGS
White Surau
PT. SURAU NUSANTARA GROUP
Perum D’Tanjung Raya, Gang Alamanda, Blok S5, Karanganyar, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur 67291

Langganan

Dapatkan artikel atau tulisan terbaru dari Surau.id
Copyright © 2026 Surau.id