JAKARTA (Surau.ID) – Penilaian sosial di media sosial terhadap laki-laki pengangguran melalui stigma “mokondo” dinilai sebagai bentuk pelecehan verbal berbasis konstruksi budaya patriarki.
Gelar negatif tersebut kerap dialamatkan tanpa memahami realitas struktural ekonomi, seperti gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) serta sempitnya lapangan pekerjaan.
Analisis yang ditulis Dwi Putri, Sekretaris Bidang Kesehatan Kopri PB PMII, menyebut fenomena ini mereduksi nilai kemanusiaan laki-laki sebatas status ekonomi semata.
Faktor Struktural Dan Jebakan Patriarki
Penyederhanaan masalah pengangguran menjadi bentuk kemalasan individu merupakan tindakan blaming the victim. Realitas ekonomi makro dan perubahan industri memegang peranan besar atas tersedianya lapangan kerja.
Stigma ini memperkuat standar precarious manhood, tempat harga diri laki-laki dituntut terus-menerus melalui pemenuhan finansial. Standar ganda ini dinilai merugikan perkembangan kesetaraan gender.
Dampak Buruk Banyak Dilaporkan Pada Kesehatan Mental
Tekanan sosial dalam bentuk ejekan di ruang digital terbukti tidak mendatangkan motivasi, melainkan memicu depresi, kecemasan, hingga self-stigma yang menghambat rasa percaya diri untuk kembali berusaha.
Dukungan sosial dan kebijakan ketenagakerjaan yang inklusif jauh lebih efektif membantu pencari kerja dibandingkan sanksi sosial yang destruktif.
Perubahan cara pandang dan bahasa di ruang digital diperlukan demi menciptakan lingkungan yang empati dan ramah kesehatan mental.